Powered By Blogger

Label

Berita (19) Biografi Islam (17) Dunia Muslim (27) Info Pejuang (7) Kisah Teladan Rosululloh SAW (8) Konspirasi (13) Palestina (15)
Tampilkan postingan dengan label Biografi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Al-Mu’tasim

Dahulu, di masa keemasan Islam, ada seorang teladan abadi sepanjang masa. Dia adalah khalifah al-Mu’tasim, khalifah Bani Abbasiyah (833-842 Masehi). Dialah yang menyambut seruan seorang muslimah yang dilecehkan tentara Romawi dengan mengirimkan pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah dan melibas seluruh tentara kafir Romawi di sana hingga bebaslah sang muslimah tadi dari tawanan Romawi. Kini, ketika ribuan muslimah dan muslim ditawan tentara-tentara kafir, dimanakah Al-Mu’tasim hari ini? Teladan Heroik Pejuang Muslim
Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, dalam judul Penaklukan kota Ammuriah.
Ketika itu, al-Mu’tasim, khalifah di masa Bani Abbasiyah, sedang memegas gelas untuk minum ketika didengarnya seorang muslimah dilecehkan oleh tentara Romawi. Khalifah pun langsung berseru kepada panglima perangnya agar bersiap menuju Ammuriah, tempat dimana muslimah tersebut berteriak meminta tolong.
Konon, muslimah itu keturunan Bani Hashim dan sedang berbelanja di sebuah pasar di kawasan negeri di bawah kekuasaan Romawi, di utara benua Asia, yakni tepatnya di kota Ammuriah, kawasan Turki hari ini. Di saat sedang berjalan itulah, sang muslimah diganggu oleh seorang lelaki Romawi dengan menyentuh ujung jilbabnya hingga dia secara spontan berteriak : “Wa Mu’tashamah….!!!” Yang juga berarti “Dimana kau Mu’tasim…Tolonglah Aku”
Teriakan muslimah tersebut akhirnya sampai ke telinga Khalifah al-Mu’tasim. Puluhan ribu tentara pun digelar mulai dari gerbang ibukota di Baghdad hingga ujungnya mencapai kota Ammuriah. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.
Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.
Hanya seorang Muslimah yang dilecehkan kafir Romawi dan berteriak ‘Wahai Mu’tasim” maka sang khalifah tersentuh hatinya dan terbakar ghiroh Islamnya sehingga dilancarkanlah serangan penaklukan ke Ammuriah hingga sang Muslimah akhirnya bisa dibebaskan. Allahu Akbar!
Sejak Dahulu Kaum Muslimin Wajib Dibela!
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, dikisahkan ada seorang tukang emas Yahudi Bani Qainuqa menganiaya kehormatan seorang Muslimah dengan mengikat pinggir bajunya sehingga menyebabkan tubuhnya tersingkap. Saat itu, seorang pria Muslim kebetulan berada di sana dan membunuh orang Yahudi itu. Kemudian orang-orang Yahudi membalas dengan membunuh orang muslim itu. Keluarga pria itu memanggil kaum Muslimin untuk membantu dan Nabi SAW., mengirimkan pasukan melawan mereka dan setelah 15 hari pengepungan seluruh suku Bani Qainuqa diusir dari Madinah. Subhanallah!
Di masa Khalifah Umar bin Abdul-Aziz, beliau pernah mengirim surat kepada para tahanan perang Muslim di Konstantinopel. Beliau mengatakan kepada mereka:
“Kamu menganggap dirimu sebagai tahanan perang. Padahal kamu bukan tahanan perang. Kamu terkunci di jalan Allah. Aku ingin kamu tahu bahwa setiap kali aku memberikan sesuatu kepada kaum Muslim, aku memberikan lebih banyak untuk keluarga kamu dan aku mengirimkan sekitar 5 dinar untuk setiap salah satu dari kamu dan seandainya bukan karena aku takut bahwa diktator Romawi akan mengambilnya dari kalian, aku akan mengirimkan lebih. Aku juga telah mengirim banyak untuk menjamin pembebasan setiap salah satu dari kalian tanpa memikirkan berapa biayanya. Jadi bersukacitalah! Assalamu Alaikum. “

Dimanakah Al-Mu’tasim Hari Ini?

Kini, berapa banyak Muslimah yang dilecehkan kehormatannya oleh kuffar ? Berapa banyak Muslimah yang berteriak meminta tolong dari kedzoliman yang dideritanya? Berapa banyak kaum Muslimin yang ditawan pemerintahan kafir maupun pemerintahan murtad ? Bukankah sudah terdengar teriakan mereka dari penjara di Guantanamo (Cuba), Abu Gharib (Irak), Bagram (Afghanistan), Gaza (Palestina) Nusa Kambangan (Indonesia), dan penjara-penjara Amerika dan Inggris di seluruh dunia. Dimanakah Al-Mu’tasim hari ini?
Bukankah saudari Muslimah kita Afia Siddiqui sudah berteriak meminta pertolongan dari penjara pemerintahan Pakistan? Juga saudara Muslimah kita, Putri Munawaroh berteriak meminta pertolongan dari kedzoliman penjara Mako Brimob?
Bukankah Rasulullah SAW., bersabda,
Berikanlah makan pada seseorang yang merasa lapar, kunjungilah seseorang yang sakit dan bebaskanlah seseorang yang ditawan.”
Beliau SAW., juga bersabda,
Adalah sebuah kewajiban bagi Muslim dari harta mereka untuk membebaskan orang-orang yang berada dalam tahanan dan membayar  tebusan.”
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
Jika mereka menahan seorang Muslim, adalah sebuah kewajiban kita untuk tetap memerangi mereka sampai mereka membebaskan mereka atau mereka di musnahkan,”
dan dia juga berkata,
Membebaskan Muslim dari tahanan adalah salah satu kewajiban yang besar dan membelanjakan kekayaan untuk membebaskan mereka adalah salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling baik.”
Sahabat Umar Ibnu Khattab RA berkata,
Bagiku membebaskan seorang Muslim yang berada ditangan Musyirikin lebih aku sukai daripada seluruh Jazirah Arab.” (Shahih Shahabi Jilid. 3).
Sejarah Islam telah menorehkan dengan tinta emas kisah-kisah heroik dan tauladan abadi dari mereka-mereka yang membela kehormatan kaum Muslimin yang ditawan musuhnya. Khalifah al-Mu’tasim adalah salah satu contoh yang paling fenomenal dalam menanggapi panggilan seorang Muslimah yang didzolimi kaum kafir. Kini, kaum Muslimin di pelbagai penjuru dunia banyak dilecehkan dan ditawan di banyak penjara kaum kuffar. Lalu, dimanakah al-Mutasim hari ini?
Wallahu’alam bis showab!
(M Fachry/arrahmah.com)
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini…
Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9003/dimanakah-al-mutasim-hari-ini#ixzz0S1sIgMRO

Sabtu, 03 September 2011

SALAHUDIN AL AYYUBI (Saladin)

RIWAYAT HIDUP SALAHUDIN AL AYUBI

Salahudin Al-Ayubi atau nama sebenarnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Atau Saladin –menurut panggilan orang Barat– lahir pada tahun 1137M, di kota Tikrit, berhampiran dengan Sungai Tigris, kira-kira 140 km dari kota Baghdad.

Beliau dari suku bangsa Kurdish dan semasa dilahirkan keluarganya dihalau dari Tikrit oleh pemerintah Baghdad kerana dituduh penghianat. Dalam perjalanan ke Alleppo Salahudin dilahirkan sehingga ayahnya berkata Anakku ini dilahirkan ketika aku dalam kesusahan. Aku bimbang kelahirannya membawa sial. Tidak siapa menyangka bayi itu menjadi pahlawan terbilang.

Semasa kecilnya Salahuddin Al Ayubi mendapat pendidikan ilmu ketenteraan daripada bapa saudaranya Asaddin Shirkuh atau Assaddudin Shirkuwah seorang panglima perang.

Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak Kurdish biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri.
Tiada seorangpun yang menyangka suatu hari nanti dia akan merampas kembali bumi Palestin dari tentera Salib. Walau bagaimanapun Allah telah mentakdirkannya untuk menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya ke arah itu.

Kerjayanya bermula sebagai tentera berkuda Al-Malik Nuruddin, sultan Aleppo, kemudian dia diperintahkan untuk pergi ke Mesir. Pada masa itu Mesir diperintah oleh kerajaan Fatimiyah yang berfahaman Syiah. Pada mulanya Salahudin berasa berat hati hendak berangkat ke Mesir kerana lebih sayangkan Aleppo. Sesungguhnya Allah perancang yang Maha Bijaksana seperti yang termaktub dalam Al Quran; Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (Al-Baqarah:216).

Apabila Salahudin sampai di Mesir keadaan tiba-tiba berubah. Dia yakin Allah telah memberi tanggung jawab kepadanya untuk membebaskan Baitul Muqaddis dari penaklukan Kristian. Dia menjadi seorang yang zuhud dan tidak tergoda dengan kesenangan dunia.

Stanley Lane Poole mencatatkan bahawa Salahuddin mengubah cara hidupnya kepada yang lebih keras. Dia bertambah warak dan menjalani hidup yang lebih berdisiplin dan sederhana. Dia mengenepikan corak hidup senang dan memilih corak hidup sederhana yang menjadi contoh kepada tenteranya. Dia menumpukan seluruh tenaganya untuk membina kekuatan Islam bagi menawan semula Jerusalem. Salahuddin pernah berkata, Ketika Allah menganugerahkan aku bumi Mesir, aku yakin DIA juga bermaksud Palestin untukku. Ini menyebabkan DIA memenangkan perjuangan Islam.

Sehubungan dengan itu Salahudin telah menyerahkan dirinya untuk jalan jihad. Fikiran Salahuddin sentiasa tertumpu kepada jihad di jalan Allah. Bahauddin, jurutulis Sultan Salahudin mencatatkan, semangat Salahuddin sentiasa berkobar-kobar untuk berjihad menentang tentera Salib telah menyebabkan jihad menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya.Dia sentiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat pasukan tenteranya, mencari mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad. Jika ada sesiapa yang bercakap kepadanya berkenaan jihad dia akan memberikan sepenuh perhatian. Sehubungan dengan ini dia lebih banyak di dalam khemah perang daripada duduk di istana bersama sanak keluarga. Siapa sahaja yang menggalakkannya berjihad akan mendapat kepercayaannya. Apabila dia telah memulakan jihad melawan tentera salib dia akan menumpahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan perang dan menaikkan semangat tenteranya.

Dalam medan peperangan dia bagaikan seorang ibu yang kehilangan anak. Dia akan bergerak dari satu penjuru ke penjuru yang lain dalam usaha menaikkan semangat tenteranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah. Dia sanggup pergi ke pelosok tanah air dengan mata yang berlinang mengajak umat Islam supaya bangkit membela Islam. Ketika perang berlansung dia lebih suka berpuasa. Semasa mengepung Acre dia demam namun tetap berpuasa. Doktor peribadinya berkata bahawa Salahuddin hanya berbuka dengan beberapa suap makanan sahaja kerena tidak mahu perhatiannya kepada peperangan terganggu.

Kemenangan peperangan Hittin telah membuka jalan mudah kepada Salahuddin untuk menawan Baitul Muqaddis. Bahauddin telah mencatatkan bahawa Salahuddin sangat-sangat berhajat untuk menawan baitul Muqaddis Hajatnya tercapai pada hari jumaat, 27 Rajab, 583H, iaitu pada hari Israk Mikraj, Salahuddin telah memasuki Masjidil al Aqsa.

Dalam catatan Bahauddin menyatakan inilah hari kemenangan atas kemenangan. Ramai orang yang terdiri dari ulama, pembesar-pembesar, peniaga dan orang-orang biasa datang merayakan kemenangan ini. Kemudiannya ramai lagi orang datang dari pantai dan hampir semua ulama-ulama dari Mesir dan Syria datang untuk mengucapkan tahniah kepada Salahuddin. Boleh dikatakan hampir semua pembesar-pembesar datang. Laungan Allahhu Akbar dan Tiada tuhan melainkan Allah telah bergema ke angkasa.

Sifat penyayang dan belas kasihan Salahuddin semasa peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman tentera Salib. Ahli sejarah Kristian pun mengakui hal ini. Lane-Poole mengesahkan bahwa kebaikan hati Salahuddin telah mencegahnya daripada membalas dendam. Dia telah menuliskan yang Salahuddin telah menunjukkan ketinggian akhlaknya ketika orang-orang Kristian menyerah kalah.Tenteranya sangat bertanggung jawab, menjaga peraturan di setiap jalan, mencegah segala bentuk kekerasan hinggakan tiada kedengaran orang-orang Kristian diperlakukan tidak baik.

Selanjutnya Lane-Poole menuliskan bagaimana pula tindak-tanduk tentera Kristian ketika menawan Baitul Muqaddis kali pertama pada tahun 1099. Telah tercatat dalam sejarah bahawa ketika Godfrey dan Tancred menunggang kuda di jalan-jalan Jerusalem jalan-jalan itu 'tersumbat' dengan mayat-mayat, orang-orang Islam yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan dipanah dari jarak dekat dari atas bumbung dan menara rumah-rumah ibadah. Darah yang membasahi bumi yang mengalir dari pembunuhan orang-orang Islam secara beramai-ramai telah mencemarkan kesucian gereja di mana sebelumnya kasih sayang sentiasa diajarkan.

Maka sangat bernasip baik orang-orang Kristian apabila mereka dilayan dengan baik oleh Salahuddin. Lane-Poole juga menuliskan, jika hanya penaklukan Jerusalem sahaja yang diketahui mengenai Salahuddin, maka ia sudah cukup membuktikan dialah seorang penakluk yang paling penyantun dan baik hati di zamannya bahkan mungkin di sepanjang zaman.

Lane-Poole juga menuliskan dalam setiap peperangan Salahuddin sentiasa berbincang dalam majlis yang membuat keputusan-keputusan ketenteraan. Kadang-kadang majlis ini membatalkan keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majlis ini tiada siapa yang mempunyai suara lebih berat tiada siapa yang lebih mempengaruhi fikiran Salahuddin. Semuanya sama sahaja. Dalam majlis itu ada adiknya, anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat lamanya, pembesar-pembesar tentera, kadi, bendahari dan setiausaha. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama banyak dalam membuat keputusan. Pendeknya semuanya menyumbang dalam kepakaran masing-masing. Walau apa pun perbincangan dan perdebatan dalam majlis itu, mereka memberikan ketaatan mereka kepada Salahuddin.

Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah mencatatkan berkenaan kewarakan Salahuddin. Dia sentiasa melakukan sembahyang berjemaah. Bahkan ketika sakitnya pun dia memaksa dirinya berdiri di belakang imam. Dia sentiasa mengerjakan sembahyang Tahajjud. Bahauddin melihatnya sentiasa sembahyang di belakang imam ketika sakitnya, kecuali tiga hari terakhir di mana ia telah tersangat lemah dan selalu pingsan.

Dia tidak pernah tinggal sembahyang fardhu. Tetapi dia tidak pernah membayar zakat harta kerana tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Dia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan hinggakan ketika wafatnya dia tidak meninggalkan harta. Bahauddin juga mencatatkan bahawa Salahuddin tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan kecuali hanya sekali apabila dinasihatkan oleh Kadi Fadhil. Ketika sakitnya pun ia berpuasa sehinggalah doktor menasihat kannya dengan keras supaya berbuka. Lalu ia berbuka dengan hati yang berat sambil berkata, Aku tak tahu bila ajal akan menemuiku. Maka segera ia membayar fidyah.

Dalam catatan Bahauddin juga menunjukkan Salahuddin teringin sangat menunaikan haji ke Mekah tetapi dia tidak pernah berkesempatan. Pada tahun kemangkatannya, keinginannya menunaikan haji telah menjadi-jadi tetapi ditakdirkan tidak kesampaian. Dia sangat gemar mendengar bacaan Quran. Dalam medan peperangan ia acap kali duduk mendegar bacaan Quran para pengawal yang dilawatnya sehingga 3 atau 4 juzuk semalam. Dia mendengar dengan sepenuh hati sehingga air matanya membasahi dagunya.

Dia juga gemar mendengar bacaan hadis Rasulullah saw. Dia akan memerintahkan orang-orang yang bersamanya duduk apabila hadis dibacakan. Apabila ulama hadis datang ke bandar, dia akan pergi mendengar kuliahnya. Kadang kadang dia sendiri membacakan hadis dengan mata yang berlinang.

Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah. Dia biasa meletakkan segala harapan nya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu ketika dia berada di Jerusalem yang pada masa itu seolah-olah tidak dapat bertahan lagi dari pada kepungan tentera bersekutu Kristian. Walaupun keadaan sangat terdesak dia enggan untuk meninggalkan kota suci itu. Malam itu adalah malam Jumaat musim sejuk. Bahaauddin mencatatkan, Hanya aku dan Salahuddin sahaja pada masa itu. Dia menghabis kan masa malam itu dengan bersembahyang dan munajat.

Aku berada di sebelahnya ketika dahinya mencecah bumi sambil menangis hingga air matanya mambasahi janggutnya dan menitik ke tempat sembahyang. Aku tidak tahu apa yang didoakannya tetapi aku melihat tanda-tanda doanya dikabulkan sebelum hari itu berakhir. Perbalahan berlaku di antara musuh-musuh yang menatijahkan berita baik bagi kami beberapa hari kemudian. Akhirnya tentera salib membuka khemah-khemah mereka dan berangkat.

Salahuddin tidak pernah gentar dengan ramainya tentera Salib yang datang untuk menentangnya. Dalam satu peperangan tentera Salib berjumlah sehingga 600,000 orang, tetapi Salahuddin menghadapinya dengan tentera yang jauh lebih sedikit. Berkat pertolongan Allah mereka menang, membunuh ramai musuh dan membawa ramai tawanan. Ketika mengepung Acre, pada satu petang lebih dari 70 kapal tentera musuh beserta senjata berat mendarat. Boleh dikatakan semua orang merasa gentar kecuali Salahuddin. Dalam satu peperangan yang sengit semasa kepungan ini, serangan mendadak besar-besaran dari musuh telah menyebabkan tentera Islam kalang kabut. Tentera musuh telah merempuh khemah-khemat tentera Islam bahkan telah sampai ke khemah Salahuddin dan mencabut benderanya. Tetapi Salahuddin bertahan dengan teguhnya dan berjaya mengatur tenteranya kembali sehingga dia berjaya membalikkan kekalahan menjadi kemenangan.

Musuh telah kalah teruk dan berundur meninggalkan lebih kurang 7,000 mayat-mayat. Bahauddin ada mencatatkan betapa besarnya cita-cita Salahuddin. Suatu hari Salahuddin pernah berkata kepadanya, Aku hendak beri tahu padamu apa yang ada dalam hatiku. Apabila Allah mentakdirkan seluruh tanah suci ini di bawah kekuasaanku, aku akan serahkan tanah-tanah kekuasaanku ini kepada anak-anakku, kuberikan arahan-arahanku yang terakhir lalu ku ucapkan selamat tinggal. Aku akan belayar untuk menaklukkan pulau-pulau dan tanah-tanah yang lain. Aku tak akan meletakkan senjata ku selagi masih ada orang-orang kafir di atas muka bumi ini sehingga ajalku sampai.

Salahuddin memiliki asas pengetahuan agama yang kukuh. Dia juga mengetahui setiap suku-suku kaum Arab dan adat-adat resam mereka. Bahkan dia mengetahui sifat-sifat kuda Arab walaupun dia sebenarnya orang Kurdish. Dia sangat gemar mengumpulkan pengetahuan dan maklumat dari kawan-kawannya dan utusan-utusannya yang sentiasa berjalan dari satu penjuru ke satu penjuru negerinya. Di samping Quran dia juga banyak menghafal syair-syair Arab. Lane-Poole juga ada menuliskan bahawa Salahuddin berpengetahuan yang dalam dan gemar untuk mendalami lagi bidang-bidang akidah, ilmu hadis serta sanad-sanad dan perawi-perawinya, syariah dan usul figh dan juga tafsir Quran.

Kejayaan terbesar Sultan Salahudin Al Ayubi ialah mengalahkan tentera Salib pada tahun 1171. Baginda memerintah selama 22 tahun telah membina kubu pertahanan dikenali sebagai al-Qalaah (Citadel) yang mana melindungi kota Kaherah dan kota lama al-Fustat dari serangan musuh. Selepas beliau meninggal pada tahun 1193 di Damsyik, Syria, pewaris-pewarisnya telah memerintah Mesir sehingga tahun 1250.

Stanley Lane Poole (1914) seorang penulis Barat menyifatkan Salahuddin sebagai seorang yang memilliki kelebihan daripada orang lain kerana menunjukkan akhlak yang mulia. Menurutnya pada hari tentera salib menakluk Jerusalem pada tahun 1099, mereka telah menyembelih orang-orang Islam termasuk wanita dan kanak-kanak, bermula dari pagi hinggalah ke tengah malam. Pada keesokan harinya mayat-mayat orang Islam bertimbun setinggi paras lutut di sepanjang jalan di Jerusalem.

Tetapi apabila Sultan Salahudin al-Ayubi menakluk kembali Jerusalem pada 1187, tentera Islam tidak membunuh seorang pun penduduk Jerusalem , malah pada keesokan harinya Salehudin telah membenarkan penganut semua agama (tidak kira sama ada Islam atau Kristian atau Yahudi) untuk bersembahyang di tempat-tempat suci masing-masing di bandar tersebut.

Satu lagi kebaikan yang ditunjukan oleh Sultan Salahudin ialah kepada musuhnya Raja Richard Berhati Singa yang datang dari England. Ketika peperangan sedang berlansung, Raja Richard jatuh sakit lalu Sultan Saladin mengirimnya buah-buahan segar, air sejuk dan seorang dokter. Kerana terharu dengan kebaikan Sultan Salahudin maka akhirnya ditandatangani perjanjian damai pada 1 September 1192 sehingga orang-orang Eropah berasa takjub bagaimana agama Islam boleh melahirkan seorang pahlawan yang baik seperti Salahudin Al Ayubi.

Sebelum meninggal dunia Sultan Salahudin Al Ayubi berpesan kepada anak-anaknya; "Jangan kamu menumpahkan darah, kerana apabila darah telah terpercik tidak ada yang tertidur."

Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin ke rahmatullah pada usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin.

Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas jatuh sakit, dia telah menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Jaafar seorang yang warak telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya membaca al Quran. Memang pada malam itu telah nampak tanda-tanda berakhirnya hayat Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar telah duduk di tepi katilnya semenjak 3 hari yang lepas membacakan Quran. Dalam masa ini Salahuddin selalu pingsan.

Apabila Syeikh Abu Jaafar membacakan ayat, Dialah Allah, tiada tuhan melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Al-Hasyr: 22), Salahuddin membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan denga nada yang gembira ia berkata, Memang benar tidak ada Tuhan selain Allah. Selepas dia mengucapkan kata-kata itu dia menghembuskan nafasnya yang terakhir sebelum subuh, 27 Safar. 

Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali 1 dinar 47 dirham. Harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk belanja pengkebumiannya. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya.

Pedang Salahudin Al Ayyubi