Powered By Blogger

Label

Berita (19) Biografi Islam (17) Dunia Muslim (27) Info Pejuang (7) Kisah Teladan Rosululloh SAW (8) Konspirasi (13) Palestina (15)
Tampilkan postingan dengan label Info Pejuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Pejuang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Alhamdulillah, drone AS kembali ditembak jatuh oleh Mujahidin di Somalia


MOGADISHU (Arrahmah.com) – Pesawat tak berawak yang dioperasikan oleh 
militer salibis AS mengalami “kecelakaan” di selatan Somalia yang berbatasan dengan Kenya, laporPress TV.
Pejabat boneka Somalia mengatakan kepada Press TV dengan kondisi anonim bahwa drone AS jatuh di dekat kota Dhoobley yang berlokasi sekitar 20 km dari perbatasan Kenya dan sekitar 500 km dari ibukota Somalia, pada Rabu (28/9/2011) pagi.
Ia menambahkan bahwa sisa-sisa pesawat itu telah diambil oleh pasukan boneka Somalia.
Somalia adalah negara keenam di mana Washington menggunakan drone AS untuk melakukan aksi mata-mata terhadap posisi Mujahidin juga melakukan serangan udara.
Negara teroris AS menerbangkan drone andalannya di langit Afghanistan, Pakistan, Libya, Irak, Yaman dan Somalia untuk memulai pemboman udara.
Beberapa hari sebelumnya, drone AS juga berhasil ditembak jatuh oleh Mujahidin Al Shabaab dan mereka mengambil bangkai drone tersebut dari lokasi jatuhnya pesawat.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Senin, 22 Agustus 2011

Liberal Pelacur Pemikiran



Banyak kalangan mengira bahwa kaum Liberal Indonesia adalah kelompok orang yang "berani" dalam berpikir dan berpendapat, walau pun salah arah. Dan tidak sedikit kalangan yang memuji kaum Liberal Indonesia sebagai generasi yang "kritis" dalam pemikiran dan pemahaman, walau pun sesat jalan.  Serta ada yang berdecak kagum melihat kaum Liberal Indonesia sangat "produktif" dalam menggelar seminar dan menulis makalah serta mencetak buku, ditambah lagi dengan sikapnya yang "nekat" melawan arus.
Padahal, jika kita menelusuri alur pemikiran Liberal dari hulu sampai ke hilir, dan kita perhatikan asal muasal gerakan dan aktivitas Liberal dari atas sampai ke bawah, ternyata kaum Liberal tidak seberani yang dikira, dan tidak pula sekritis yang digaungkan, serta tidak seproduktif yang dilihat.
PLAGIAT PEMIKIRAN
Kaum Liberal Indonesia dengan gegap gempita menggembar-gemborkan penerapan Hermeneutika dalam Studi Al-Qur'an. Nyatanya, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia menggaungkan hal tersebut, adalah Pendeta Alphonse Mingana (1881-1937) seorang Kristen Iraq yang juga Dosen Theologi di Birmingham University - Inggris, dalam buku "Syriac Influence on The Style of The Kur'an" yang diterbitkan pada tahun 1927, menyatakan : "Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur'an, sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani."
Kaum Liberal Indonesia dengan super semangat mengkampanyekan tentang perlunya membuat Tafsir Al-Qur'an edisi kritis. Nyatanya, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia mengkampanyekan hal tersebut, adalah Arthur Jeffery (1893-1959) seorang tokoh Kristen Methodist dari Australia, dalam buku "The  Qur'an as Scripture" yang diterbitkan pada tahun 1952, menyatakan : "Apa yang kita butuhkan, bagaimana pun, adalah Tafsir Kritis yang mencontohi karya yang telah dilakukan Orientalis Modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk Tafsir Al-Qur'an."
Selain itu, masih ada Abraham Geiger (1810-1874) yang melakukan kajian Al-Qur'an dari konteks ajaran Yahudi, dan Gustav Weil (1808-1889) yang melakukan kajian Al-Qur'an secara kronologis, serta Theodor Noldeke (1836-1930) yang melakukan kajian kritis asal muasal Al-Qur'an, juga Pdt. Edward Sell (1839-1932) yang menggunakan metodologi "Higher Criticism" terhadap Al-Qur'an, lalu Ignaz Golziher seorang Yahudi asal Hungaria yang pernah menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar - Mesir dan sahabat baik Christian Snouck Hugronye.
Kaum Liberal Indonesia dengan sangat agresif mendorong penyatuan semua agama dengan konsep pluralisme, inklusivisme dan multikulturalisme. Nyatanya, para Theolog dari kalangan Protestan seperti John Hick dan Paul F. Knitter, mau pun dari kalangan Katholik seperti Raimundo Panikkar, sudah lebih dulu menyuarakannya. Sampai akhirnya, Paus Yohannes Paulus II turun tangan pada tahun 2000 dengan mengeluarkan "Dekrit Dominus Yesus" untuk menghadapi serbuan pluralisme di kalangan umat Kristiani. Di kalangan umat Hindu ada nama Ram Mohan Roy (1772-1833) yang mencampur aduk-kan ajaran semua agama, yang kemudian ajarannya dilanjutkan oleh Debendranath Tagore dan Kashub Chandra Sen. Kemudian gerakan ini semakin kuat diusung di kalangan Hindu oleh Ramakrishna (1836-1886) dan Vivekananda (1863-1902).
Kaum Liberal Indonesia menggelorakan semangat perkawinan sejenis. Nyatanya, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia meneriakkan legalisasi Homoseksual dan Lesbianisme, adalad Eric James, seorang pejabat gereja Inggris melalui bukunya "Homosexuality and a Pastoral Church" telah menghimbau gereja agar mentoleransi kehidupan Homoseksual dan Lesbianisme serta mengizinkan perkawinan sejenis. Bahkan pada November 2003, para pastor Gereja Anglikan di New Hampshire AS sepakat mengangkat Uskup Homoseks bernama Gene Robinson. Karenanya, di banyak negara Barat, Homosex dan Lesbi tidak dianggap sebagai kejahatan selama masyarakat menerimanya. Bahkan edannya, pada medio Juni 2011 baru-baru ini, Dewan Hak Asasi Manusia - Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM-PBB),  dengan dukungan suara 23 negara melawan 19 negara yang menolak, sedang 3 negara abstain, mengeluarkan "Resolusi Persamaan Hak bagi semua orang tanpa memandang Orientasi Seksual", yang isinya mengakui dan menjamin Homosex dan Lesbi sebagai Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga pelarangan Homosex dan Lesbi di negara mana pun akan dianggap sebagai pelanggaran HAM.
Aneka Hujatan Kaum Liberal Indonesia terhadap Al-Qur'an, seperti tuduhan keji bahwa Al-Qur'an sebagai produk budaya, produk bahasa dan produk sejarah, serta tuduhan jahat bahwa Al-Qur'an provokatif,  diskriminatif, tidak autentik dan tidak suci, termasuk fitnah biadab bahwa Al-Qur'an hanya merupakan hasil kongkalikong antara Muhammad dengan para Shahabatnya, ternyata semuanya hanya "jiplakan" dari berbagai fitnah dan tuduhan yang pernah dilontarkan para Orientalis Barat sejak zaman Leo III (717-741) yang pernah berpolemik dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA melalui surat, hingga kini. Sepanjang sejarah Orientalis telah melahirkan manusia-manusia penghujat Islam antara lain : Johannes Damascus (652-750) yang memfitnah Nabi SAW sebagai hypersex, dan Abdul Masih Al-Kindi (sekitar Th.873) yang risalahnya dijadikan "rujukan" untuk menghujat Islam, Petrus Veberabilis (1094-1156) yang dipuja kalangan Orientalis sebagai "Bapak Penaklukan Pemikiran", dan Ricoldo da Monte Crice (1243-1320) yang menyatakan bahwa Islam dan Al-Qur'an adalah buatan setan, serta Martin Luther (1493-1546) yang mencela Al-Qur'an sebagai takhayyul dan ketololan.
Masih banyak lagi aneka pemikiran Orientalis Barat yang "dijiplak" oleh kaum Liberal Indonesia. Jika kita paparkan disini satu per satu, maka akan memakan ratusan bahkan ribuan halaman. Hal ini menjadi bukti autentik bahwa kaum Liberal Indonesia tidak punya keberanian untuk berfikir, dan tidak memiliki sikap kritis sejati, serta sama sekali tidak produktif. Kaum Liberal Indonesia hanya "plagiat pemikiran" yang menjiplak sana sini dari aneka pemikiran Orientalis yang sesat dan menyesatkan.
KETERBELAKANGAN INTELEKTUAL
Jika kita meneliti lebih dalam lagi, ternyata kaum Liberal Indonesia bukan saja "plagiat pemikiran", tapi juga kelompok manusia "minder" yang mengidap penyakit "keterbelakangan intelektual". Itulah sebabnya, berbagai pernyataan dan tindakan mereka sering ngawur tidak berdasar, bahkan cenderung dungu dan kesasar, sehingga mereka bagaikan orang gila yang kesetanan.
Terkait Aqidah Islam, "keterbelakangan intelektual" kaum Liberal Indonesia tidak sanggup mendalaminya, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan "biadab" yang menodainya. Di tahun 2004, saat penyambutan mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) - Bandung terdengar ajakan dengan suara lantang dari oknum mahasiswa senior : "Kita dzikir bersama : Anjinghu Akbar !" Dan di tahun 2008, seorang aktivis Liberal dari AKKBB dalam suatu wawancara televisi menyatakan bahwa soal Ahmadiyah hanya merupakan persaingan antara "Nabi Arab" dan "Nabi India".
Terkait kesucian Al-Qur'an, "keterbelakangan intelektual" kaum Liberal Indonesia tidak mampu memahaminya, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan "edan" yang menistakan kesuciannya. Pada tanggal 17 April 2006, Gus Dur dalam dialog interaktif di Radio 68H Utan Kayu - Jakarta bersama seorang wartawan Tempo, Guntur Romli, melontarkan pernyataan ngawur : "Al-Qur'an adalah kitab suci paling porno di dunia." Dan pada bulan berikutnya, tanggal 5 Mei 2006, seorang dosen IAIN Sunan Ampel - Surabaya, Sulhawi Ruba, dalam rangka mendoktrin dan meyakinkan para mahasiswanya bahwa Al-Qur'an adalah hasil budaya manusia dan tidak sakral, maka secara sadar dan sengaja menginjak-injak lafazh "Allah" di hadapan para mahasiswanya.
Terkait Syariat Islam, "keterbelakangan intelektual" kaum Liberal Indonesia tidak sanggup memahami kesempurnaannya, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan "gila" yang melecehkannya. Ulil Abshar Abdalla dalam Harian Kompas 18 November 2002 menyatakan : "Menurut saya, tidak ada yang disebut Hukum Tuhan dalam pengertian seperti yang dipahami orang Islam." Sedang  dalam majalah Tempo edisi 19-25 November 2002, Ulil menyatakan : "Negara Sekuler lebih unggul daripada Negara Islam ala fundamentalis, sebab Negara Sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus." Melalui tulisan di Harian Republika, Masdar F Mas'udi, salah seorang penulis buku sesat "Fiqih Lintas Agama" yang terbit tahun 2004, dengan dalih untuk keselamatan dari bahaya akibat padatnya jama'ah Haji dari berbagai negara, maka ia mengusulkan agar jama'ah Haji Indonesia menunaikan manasik ibadah Haji di bulan Syawwal saja. Selain itu, masih ada Sumanto Qurtuby penulis buku sesat "Lubang Hitam Agama" yang terbit tahun 2005, di halaman 70 menyatakan : "Pembantaian terjadi dimana-mana, teror terjadi dimana-mana, buah Syariat Islam bukannya manusia-manusia suci, saleh dan agung, tapi justru menciptakan gerombolan mafia dan "anjing-anjing" penjilat kekuasaan."
Terkait homoseksual dan lesbianisme, "keterbelakangan intelektual" kaum Liberal Indonesia tidak mampu mengenalinya sebagai penyimpangan seksual, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan "sinting" yang menghalalkannya. Dalam jurnal "Perempuan" edisi 58, Musdah Mulia, Guru Besar Universitas Negeri Syarif Hidayatullah (UIN SH) - Jakarta, menyatakan secara terbuka : "Seorang Lesbian yang bertakwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin itu." Dalam jurnal "Justisia" yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Wali Songo (IAIN WS) - Semarang, edisi 25 Tahun XI / 2004, redakturnya menuliskan dalam kolom redaksi : "Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya."
Aneka pernyataan dan tindakan kaum Liberal Indonesia dalam berbagai contoh kasus di atas, bukan sekedar sikap "asal beda" atau "tampil eksentrik" atau pun "gaya kontroversial", apalagi sekedar wacana dari celotehan "nyeleneh", melainkan pernyataan dan tindakan yang lahir dari penyakit serius berupa "keterbelakangan intelektual". Penyakit ini lebih berbahaya dari "dungu" dan "idiot", karena dungu atau idiot hanya melahirkan sikap "tidak tahu" atau biasa disebut "Jahil", sedang "keterbelakangan intelektual" melahirkan sikap "sok tahu" atau lebih sering disebut "Jahil Murokkab". Na'uudzu billaahi min dzaalik.
LEBIH RENDAH DARI BINATANG
Allah SWT berfirman dalam QS.7. Al-A'raaf : 179 yang terjemahannya sebagai berikut : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari Jin dan Manusia, mereka mempunyai hati (akal), (tetapi) tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), serta mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
Ayat ini dengan tegas menghinakan orang-orang yang tidak mau mempergunakan hati / akal, mata dan telinga mereka untuk memahami, melihat dan mendengar tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Mereka disamakan dengan binatang, bahkan lebih rendah, hina dan sesat daripada binatang. Menurut penulis, kaum Liberal termasuk kelompok yang dihina ayat ini, karena cirinya sama. Bagi penulis, Liberal sama dengan binatang, bahkan lebih rendah dan hina.
Bagaimana Liberal tidak lebih rendah dan hina daripada binatang ?! Seekor ayam saja yang tidak berakal mengetahui bahwa jantan tidak boleh mengawini jantan dan betina tidak boleh mengawini betina, lalu ada manusia Liberal yang katanya berakal cerdas dan tinggi pula pendidikannya hingga "bergelar profesor doktor" tidak paham soal sesederhana itu, sehingga ia menghalalkan homosexual dan lesbianisme. Bahkan gilanya, Dewan HAM PBB melegalkan Homosex dan Lesbi sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Ironis, ayam yang tidak berakal tapi "mengerti", sedang si manusia "profesor berakal" justru "tidak mengerti", bahkan Dewan HAM-PBB yang katanya kumpulan "orang berakal" kelas dunia ternyata lebih "tidak mengerti".
AKAR LIBERAL
Dalam sejarah Islam yang pertama kali menawarkan konsep Liberal terkait pencampur-adukkan ibadah antar agama adalah Abu Jahal cs, tatkala mendatangi Rasulullah SAW dan menawarkan perdamaian antar kaum muslimin dan kaum musyrikin dalam bentuk beribadah secara bergilir kepada Allah SWT dan berhala sesembahan kaum musyrikin, lalu turun Surat Al-Kafirun sebagai jawabannya.
Abu Jahal cs selalu menghina Nabi SAW, melecehkan agama dan memusuhi umat Islam dengan berbagai macam cara. Abu Jahal cs inilah yang pernah menantang Sayyiduna Abu Bakar RA untuk melogikakan dan merasionalisasikan peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dengan "Akal". Mereka berkata kepada Sayyiduna Abu Bakar RA : "Hai Abu Bakar, masihkan kau percaya dengan kebohongan Muhammad ? Akal manusia mana yang bisa menerima cerita perjalanan dari Mekkah ke Syam hanya dalam waktu sebagian malam. Padahal kita sama tahu, perjalanan sejauh itu dengan menunggang unta saja menghabiskan waktu tidak kurang dari sebulan perjalanan ?!"
Sayyiduna Abu Bakar RA pun menjawab dengan tegas dan lantang tanpa sedikit pun keraguan : "Andaikata Muhammad bercerita tentang peristiwa yang lebih dahsyat daripada Isra Mi'raj, niscaya pasti aku akan percaya dan membenarkannya !" Itulah sebabnya Sayyiduna Abu Bakar RA dijuluki "Ash-Shiddiq" yang artinya orang yang jujur dengan imannya, yang membenarkan Nabi SAW tatkala orang lain mendustakannya, yang mempercayai Nabi SAW tatkala orang lain mencemoohkannya. Jawaban Ash-Shiddiq RA adalah jawaban tulus dan ikhlash yang lahir dari iman yang kuat, bukan dari logika yang hampa. Ash-Shiddiq RA telah memberi pelajaran kepada umat Islam tentang urgensi dan importensi keimanan. Iman mampu menjawab sesuatu yang belum mampu dijawab oleh akal. Iman sanggup menerima sesuatu yang akal masih sulit mencerna. Iman bisa melakukan keajaiban yang tak bisa dikakukan oleh akal.
Dengan demikian, akar pemikiran Liberal dalam sejarah Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu pola pikir yang telah dipertontonkan secara vulgar dan demonstratif oleh Abu Jahal cs. Pola pikir Liberal terus berkembang di kalangan orang kafir dan munafiq, bahkan terus berusaha mempengaruhi kaum muslimin, sehingga dari dulu hingga kini banyak generasi muda muslim tanpa mereka sadari mulai masuk perangkapan pemikiran sesat Liberal. Sebagaimana Abu Jahal cs, kaum Liberal pun selalu menghina Nabi SAW, melecehkan agama dan memusuhi umat Islam dengan berbagai macam cara.
IBLIS, ZINDIQ DAN BUANG ANGIN
Iblis tatkala diperintahkan Allah SWT sujud kepada Adam AS, ia menolak dengan dalih : "Kau ciptakan aku dari api, sedang Kau ciptakan dia dari tanah." Jawaban ini bukan hanya menunjukkan tingkat hasad dan sombongnya Iblis, tapi juga Iblis mencoba menggunakan "Logika" untuk berhadapan dengan "Perintah Allah SWT". Ternyata akar Liberal ujung-ujungnya datang dari Iblis.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Imam Ja'far Ash-Shodiq RA pernah ditanya dengan pertanyaan "Liberal" : "Iblis diciptakan dari api, lalu akan disiksa dalam Neraka dengan api. Ini sesuatu yang tidak masuk di akal, api disiksa dengan api?!" Maka ketika itu Imam Ja'far Ash-Shodiq RA mengambil sebongkah tanah liat lalu diremas dan dipulungnya menjadi bulatan kecil, kemudian dilemparkan kepada si penanya, maka si penanya mengelak takut sakit. Imam Ja'far Ash-Shodiq RA menanyakan kenapa si pemuda mengelak, maka si pemuda menjawab bahwa jika tidak mengelak pasti akan merasakan sakit terkena lemparan bola tanah tersebut. Akhirnya Imam Ja'far RA berkata : "Kau manusia yang berasal dari tanah, tapi kenapa kau merasa sakit ketika dihantam dengan tanah ?!"
Syeikh Abdurrahman Habannakah Al-Maidani dalam kitabnya "Al-'Aqidah Al-Islamiyyah" menukilkan sebuah kejadian, yaitu peristiwa Debat Terbuka di depan umum antara Imam Abu Hanifah RA dengan kaum Zindiq yang berpendapat bahwa Alam Semesta beserta isinya tercipta dengan sendirinya. Ketika itu, Imam Abu Hanifah RA datang sangat terlambat ke lokasi pagelaran Debat Terbuka, sedang kaum Zindiq justru datang lebih dulu jauh sebelum waktunya. Maka kaum Zindiq pun mengecam, sedang Imam Abu Hanifah RA dengan tenang minta dimaklumi karena ada 'udzur. Kaum Zindiq menanyakan udzurnya sambil mengancam tidak mau mengikuti debat jika udzurnya tidak bisa dimaklumi. Imam Abu Hanifah RA pun bercerita : "Sebenarnya aku berangkat tadi sudah tepat waktu, akan tetapi aku tertahan di tepi sungai ketika hendak menyeberang kemari, karena tidak ada perahu yang mengantar. Ketika sudah terlalu lama aku menunggu, maka aku putuskan untuk kembali, namun tiba-tiba aku melihat seonggok kayu mendatangiku dan kemudian kayu-kayu itu bergerak sendiri, satu sama lainnya saling mengikat dan menyatu, sehingga menjadi sebuah perahu. Akhirnya, aku gunakan perahu tersebut untuk menyeberangi sungai, sehingga aku sampai kepada kalian disini."
Mendengar cerita Imam Abu Hanifah RA, spontan saja kaum Zindiq membentaknya sambil marah : "Adakah kau melecehkan kami dengan ceritamu ?! Apa mungkin seonggok kayu mendatangimu, lalu bekerja sendiri menjadi sebuah perahu ?!" Maka dengan tenang Imam Abu Hanifah RA menjawab : "Bukankah kalian berkumpul disini untuk mendebatku dalam persoalan semacam ini ?! Jika kalian tidak percaya bahwa perahu bisa tercipta dengan sendirinya, maka kenapa kalian menuntut aku untuk percaya bahwa Alam Semesta yang menakjubkan ini tercipta dengan sendirinya ?!" Kaum Zindiq terkejut mendengar jawaban Imam Abu Hanifah RA, mereka pun bungkam berjuta bahasa, bahkan akhirnya mereka taubat di hadapan Imam Abu Hanifah RA disaksikan umat Islam yang menghadiri acara tersebut.
Almarhum KH. Muhammad Syafi'i Hadzami rhm, seorang Ulama Besar Betawi, dalam pengajian di Radio Cendrawasih semasa hidupnya, pernah mendapat pertanyaan "nyeleneh" dari seorang pendengar : "Ada orang kafir bertanya kepada saya, kenapa umat Islam jika buang angin perlu berwudhu untuk Shalat. Pertanyaannya, kok yang buang angin pantat, tapi yang dibasuh muka dalam wudhu ?!" Almarhum menjawab dengan tenang : "Jika anda buang angin, yang malu pantat atau muka ?! Tentu muka, karenanya muka yang malu itulah yang dibasuh."
SYAHWAT PEMIKIRAN
Dengan demikian menjadi terang benderang bahwasanya kaum Liberal tidak seberani yang dikira, dan tidak pula sekritis yang digaungkan, serta tidak seproduktif yang dilihat. Kaum Liberal hanya kemlompok "Plagiat Pemikiran" yang bisanya hanya menjiplak pemikiran orang lain. Bahkan yang lebih menjijikkan, ternyata kaum Liberal itu kelompok "Pelacur Pemikiran" yang selalu menerima pemikiran apa saja dan darimana saja hanya untuk memenuhi "Syahwat Pemikiran" mereka dengan dalil akal dan nalar.
Kaum Liberal sangat mengandalkan akal, bahkan cenderung mempertuhankan akal, sehingga semua aturan Aqidah, Syariat dan Akhlaq ditimbang dengan neraca akal. Dengan berdalih ayat dan hadits tentang keistimewaan akal, mereka paksa Aqidah, Syariat dan Akhlaq untuk tunduk kepada akal. Itulah karenanya, kaum Liberal akan menentang ayat dan menolak hadits jika mereka nilai bertentangan dengan akal.
Benarkah dengan sikap demikian itu berarti kaum Liberal telah memuliakan akal, atau sebaliknya. Insya Allah, pada edisi berikut akan penulis paparkan melalui kolom yang sama ini dengan judul : Liberal Pemerkosa Akal dan Pembunuh Nalar.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan melindungi kita dari segala bentuk pelacuran pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Aamiiin...!
Penulis: Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA
[slm/fpi]


Sumber : Suara Islam

FPI Serang Masjid Ahmadiyah Sulsel


MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Sejumlah kader Front Pembela Islam (FPI) menyerang masjid majelis Jamaah Ahmadiyah Indonesia yang berada di Jl Anuang, Kecamatan Mamajang, Minggu (14/7) dini hari. Akibat kejadian tersebut kaca jendela lantai satu mesjid An-Nushrat pecah dan sebuah mobil APV silver yang terparkir di halaman mesjid rusak.

Kejadian berawal ketika sejumlah kader FPI melakukan razia bulan Ramadhan. Ketika itu, Sejumlah kader FPI melintas di depan masjid tersebut dan masuk ke dalam masjid melempar kaca masjid.

Ahmad (35) anggota majelis Ahmadiyah yang berada di lantai hanya dapat melihat kader FPI merusak masjidnya.

Kejadian tersebut menghebohkan warga sehingga mereka keluar dari rumahnya. Seorang warga sempat menegur FPI untuk tidak berbuat anarkis sehingga warga sempat bersitegang dengan warga sekitar. "Bahkan rumah salah satu warga dilempari oleh kader FPI.

Pihak Kepolisian yang tiba di lokasi kemudian meminta kader FPI meninggalkan lokasi tersebut. Mereka meninggalkan mesjid masjelis Ahmadiyah.

Liberal Ngibul Yakkin

LIBERAL NGIBUL YAKIN
http://www.fpi.or.id/images/article/habib%20rizieq.jpg
Dalam Tradisi Hikayat Betawi ada istilah "Ngibul Yakin", maksudnya cerita bohong tapi meyakinkan. Salah satu kemahiran kaum Liberal adalah membungkus "kebohongan" secara akademik dalam teori ilmiah dan hypotesa serta analisa, lalu melemparnya dalam forum-forum dialog nasional maupun internasional.
Dengan menggunakan sarana canggih dan metode modern serta tekhnik mutakhir, maka penampilan mereka sangat meyakinkan sebagai cendikiawan dan intelektual yang sepertinya "cerdas". Hasilnya, bodoh tapi tampak pintar, bohong tapi tampak benar, ngawur tapi tampak jujur, khianat tapi tampak amanat. Itulah "Ngibul Yakin" kaum Liberal.
NGIBUL AQIDAH
Kaum Liberal mengaku sebagai Islam, bahkan mengklaim sebagai pengikut "Ahlus Sunnah wal Jama'ah". Mereka menyusup ke berbagai kalangan umat Islam, bahkan tak jarang mereka "mencatut" nama besar NU dan Muhammadiyah atau Ormas Islam lainnya untuk menjustifikasi kesesatan mereka. Padahal, NU dan Muhammadiyah bukan Liberal. Bahkan kita semua tahu, bahwa NU dan Muhammadiyah adalah Ormas Islam yang terkenal dengan keistiqomahannya dalam berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Kepada kalangan NU, kaum Liberal menjual dagangan "Islam Kultural" yang mengusung "Islam yang Indonesiawi" bukan "Indonesia yang Islami", sehingga Islam bebas ditafsirkan sesuai latar belakang kultur masing-masing. Sedang kepada kalangan Muhammadiyah, kaum Liberal menjajakan dagangan "Islam Progesif" yang mengusung modernitas dan pembaharuan, sehingga penafsiran Islam disesuaikan dengan selera manusia pada zamannya.
Kepada kalangan mahasiswa dan generasi muda, kaum Liberal menawarkan "Islam Bebas" yang mengusung kebebasan tanpa batas. Dalam jurnal "Justisia" yang dikeluarkan oleh Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo -Semarang, edisi 23 Tahun XI / 2003, dimuat sejumlah tulisan dengan judul-judul : Historisitas Qur'an - Pengantar menuju Desakralisasi (Redaksi), Studi Kritik Qur'an dan Qur'an Perangkap Bangsa Quraisy (keduanya tulisan M. Kholidul Adib), Pembukuan Qur'an oleh Usman - Sebuah Fakta Kecelakaan Sejarah (Tedi Kholiludin), Kritik Ortodoksisme - Mempertanyakan Ketidak-kreatifan Generasi Pasca Muhammad (Iman Fadhilah), Kesucian Palsu sebuah Kitab (Sumanto Qurtubi). Semua tulisan tersebut menyerang Al-Qur'an secara vulgar, yang intinya bahwa Al-Qur'an hanya produk budaya dan sejarah yang tidak suci dan tidak sakral, bahkan sudah tidak asli lagi.
Dalam acara penyambutan mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) - Bandung pada tahun 2004, para mahasiswa baru disambut dengan ucapan : "Selamat bergabung di area bebas Tuhan". Kemudian acara tersebut ditutup dengan suara lantang : "Kita dzikir bersama, anjinghu Akbar!" Begitukah cara Liberal mendemonstrasikan keislamannya ?! Itukah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah versi Liberal ?!
NGIBUL SYARIAT
Judul utama jurnal "Justisia" edisi 25 tahun XI / 2004   tertulis di cover depan : "Indahnya perkawinan sesama jenis". Sesuai judulnya, seluruh isi edisi tersebut adalah propaganda Homosexual dan Lesbianisme. Dengan menggunakan ayat dan hadits, kaum Liberal berupaya untuk menghalalkan perkawinan sesama jenis. Tanpa punya rasa malu mereka mengajak dan menyerukan umat untuk menerima Homo dan Lesbi. Secara terbuka mereka menentang agama dan menantang Allah SWT.
Pada kolom Redaksi halaman 1, pada alinea terakhir tertulis sebagai berikut : "Lantas, kenapa pernikahan homoseksual dilarang padahal justru ada kemashlahatan, khususnya bagi diri si homoseks dan umumnya bagi umat manusia yang kini dilanda krisis? Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapa pun dengan dalih apa pun untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan. Jika dulu Tuhan mengutus Luth untuk menumpas kaum homo karena mungkin bisa menggagalkan proyek Tuhan dalam penciptaan manusia (karena manusia waktu itu masih sedikit), maka Tuhan sekarang perlu mengutus "Nabi" untuk membolehkan kawin sejenis supaya mengurangi sedikit proyek Tuhan tersebut. Itu kalau Tuhan masih peduli dengan alam-Nya. Bagi kami, jalan terus kaum homoseks. Anda di jalan yang benar."
Seorang Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN SH) - Jakarta, Musdah Mulia, dalam jurnal "Perempuan 58" dalam wawancara eksklusifnya secara terus terang menghalalkan Lesbianisme dengan dalih bahwa Allah hanya melihat taqwa, bukan orientasi seksual manusia. Di halaman 127 dalam jurnal tersebut, dia menyatakan : "Tidak ada perbedaan antara lesbian dan bukan lesbian di hadapan Tuhan. Tuhan melihat manusia semata-mata berdasarkan takwa, bukan pada suku, agama dan orientasi seksualnya." Selanjutnya dia menyatakan keyakinannya : "Seorang lesbian yang bertakwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin itu. "
Jauh sebelum itu, Musdah Mulia pernah membuat Draft Counter Legal - Kompilasi Hukum Islam, yang isinya usulan perubahan pasal-pasal soal perkawinan dan warisan, seperti polygami harus dilarang, wanita harus punya hak talaq, waris anak laki dan perempuan harus sama, suami yang bercerai harus ada masa 'iddah juga seperti wanita, dan sebagainya. Hasil dari "Ngibul Syariat" yang dilontarkan di berbagai kesempatan dan pelbagai media, Musdah Mulia dinilai sebagai wanita paling berani di Asia Tenggara, sehingga pada Maret 2007 mendapat penghargaan "International Women of Courage Award" dari Amerika Serikat. Begitukah Syariat Islam yang diajarkan kaum Liberal?! Begitukah cara Liberal "berhujjah" dalam mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram?!
Kaum Liberal menyatakan bahwa Fiqih merupakan belenggu kehidupan, sekaligus sebagai penebar kebencian terhadap non muslim, sebagaimana yang mereka tuliskan dalam Kata Pengantar maupun Muqaddimah buku sesat "Fiqih Lintas Agama". Padahal, semua Ulama sepakat bahwasanya justru dengan memahami Fiqih secara benar merupakan salah satu cara membebaskan diri dari hawa nafsu, sekaligus umat Islam akan tahu kewajibannya terhadap umat beragama lain, sehingga akan lebih menjamin toleransi antar umat beragama. Selain itu, justru "Fiqih Lintas Agama" yang digadang-gadang Liberal merupakan "Fiqih Gadungan" yang penuh kepalsuan. Buku "Fiqih Lintas Agama" merupakan bukti autentik bahwa Liberal telah melakukan "Ngibul Syariat".
Masih dalam Muqaddimah yang sama, kaum Liberal menyatakan bahwa Imam Syafi'i adalah penyebab kebekuan berfikir umat. Padahal, semua Ulama mengakui kebesaran Imam Syafi'i sebagai peletak Ilmu Ushul Fiqih yang merupakan kunci pintu ijtihad, sehingga justru Imam Syafi'i lah pahlawan yang menjaga umat agar tidak masuk dalam kubangan kebekuan berfikir. Imam Ahmad pernah mengatakan : "Kaana Al-Fiqhu Quflan 'alaa Ahlihi hattaa Fatahahu Allahu bi Asy-Syafi'i" artinya "Dulu Fiqih itu tertutup (sulit dikembangkan) oleh para Ahlinya sehingga Allah membukanya dengan Syafi'i." Adakah Liberal lebih saleh dan lebih cerdas dari ulama Salaf dalam menilai Imam Syafi'i ?! Atau memang Liberal lebih hebat dari pada Imam Syafi'i ?!
Ada lagi yang lebih parah, dalam buku sesat lainnya "Lubang Hitam Agama" halaman 70, penulisnya menyatakan : "..., buah Syariat Islam bukannya manusia-manusia suci, saleh dan agung, tapi justru menciptakan gerombolan mafia dan "anjing-anjing" penjilat kekuasaan." Begitukah cara Liberal "mengibuli" umat tentang makna Syariat Islam ?! Begitukah cara Liberal memfitnah Syariat Islam dengan mengatas-namakan agama ?!
Kaum Liberal telah berhasil membuat stigma bahwa Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) adalah "Markas Liberal", bahkan mereka berupaya agar Fakultas Syariah menjadi ujung tombaknya. Padahal, di pelbagai PTIN masih sangat banyak Rektor, Dekan, Guru Besar dan Dosen serta Mahasiswa yang istiqomah di jalan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka sangat anti Liberal, hanya saja suara para akademisi lurus ini sengaja dibungkam, dan tak satu pun media yang tertarik menampilkannya, apalagi mendapat penghargaan asing.
NGIBUL MADZHAB
Dalam konsep "memakhluqkan" Al-Qur'an, Liberal mengklaim sejalan dengan Mu'tazilah.
Padahal,  konsep Mu'tazilah memakhluqkan Al-Qur'an dengan menisbahkannya kepada Allah SWT, sehingga pengertiannya bahwa Al-Qur'an adalah makhluq ciptaan Allah SWT. Sedang konsep Liberal memakhluqkan Al-Qur'an dengan menisbahkannya kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga pengertiannya bahwa Al-Qur'an adalah makhluq ciptaan Nabi Muhammad SAW. Adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan makhluq, tapi Kalamullah yaitu Firman yang datang dari Allah SWT.
Dalam konsep "Nabi tidak buta huruf", Liberal mengklaim sejalan dengan Syiah. Padahal, konsep Syiah tentang Rasulullah SAW bisa baca tulis dimotivasi oleh "niat baik" untuk memuliakan Nabi SAW. Sedang konsep Liberal tentang Rasulullah SAW bisa baca tulis dimotivasi oleh "niat jahat" untuk menguatkan tuduhan keji bahwa Al-Qur'an ditulis oleh Nabi Muhammad SAW. Ada pun Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah seorang Nabi yang "Ummi" yaitu tak bisa baca tulis sesuai dalil naqli yang shahih dan sharih. Bagi Ahlus Sunnah "ke-ummi-an" Rasulullah SAW bukan kekurangan atau sifat rendah dan tercela, bahkan merupakan "Mu'jizat" tersendiri yang lebih menguatkan bahwa Al-Qur'an bukan buatannya, sekaligus melemparkan hujjah Liberal ke tong sampah.
Dalam konsep "Pluralisme", Liberal mengklaim sejalan dengan madzhab pemikiran Ibnu Rusyd. Padahal, Ibnu Rusyd tidak pernah menyatakan semua agama sama benar, apalagi mencampur-adukkan agama. Ibnu Rusyd seorang Ahlus Sunnah sejati bermadzhab Maliki. Justru, dalam sejarah Islam yang pertama kali menawarkan pencampur-adukkan ibadah antar agama adalah Abu Jahal cs, tatkala mendatangi Rasulullah SAW dan menawarkan perdamaian antar Islam dan Musyrik dalam bentuk beribadah secara bergilir kepada Allah SWT dan berhala sesembahan kaum Musyrikin, lalu turun Surat Al-Kafirun sebagai jawabannya. Jadi, Abu Jahal layak dinobatkan sebagai "Bapak Pluralisme Dunia", sehingga kaum Liberal sebagai pengusung Pluralisme layak disebut sebagai pengikut setia Abu Jahal.
NGIBUL DALIL
Kaum Liberal meragukan otentisitas Al-Qur'an sebagai Kitab Suci yang asli dan autentik dengan dalih di samping Mush-haf Utsman terrdapat aneka Mush-haf tandingan di zaman para Shahabat, seperti Mush-haf Ali, Anas, Ubay, Abu Musa dan Ibnu Mas'ud, rodhiyallaahu 'anhum. Kaum Liberal mensinyalir bahwa tatkala pemusnahan mush-haf para Shahabat saat penghimpunan Al-Qur'an di zaman Khalifah Utsman RA, Ibnu Mas'ud RA menolak pemusnahan mush-hafnya. Menurut kaum Liberal bahwa peristiwa tersebut menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dengan Mush-haf Utsman, sehingga menjadi pertanyaan sejarah hingga kini. Padahal, tidak ada satu pun Shahabat yang meragukan atau protes terhadap Mush-haf Utsman, termasuk Ibnu Mas'ud RA. Dalam riwayat disebutkan, pada awalnya Ibnu Mas'ud RA memang menolak pemusnahan mush-hafnya karena alasan pribadi, namun akhirnya beliau menyesal dan meminta maaf, lalu memusnahkan mush-hafnya, dan ikut merujuk kepada Mush-haf Utsman sebagaimana Shahabat yang lain. Jadi, semua Shahabat telah Ijma' menyepakati otentisitas isi kandungan Mush-haf Utsman sebagai Kitab Suci kaum muslimin.
Kaum Liberal menolak penerapan Syariat Islam dan menjadikan "Piagam Madinah" sebagai rujukan "Pluralisme". Padahal, "Piagam Madinah" justru merupakan rujukan "Pluralitas" dalam naungan penerapan Syariat Islam. Di zaman itu, dengan "Piagam Madinah" masyarakat non muslim hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam, dan pada saat yang sama semua non muslim tunduk dan patuh pada penerapan Syariat Islam di Negara Madinah yang dipimpin Rasulullah SAW. Saat itu, muslim atau pun non muslim yang mencuri dipotong tangannya, zani muhshon dirajam hingga mati, zani ghoir muhshon dicambuk dan diasingkan, pembunuh diqishosh atau terkena diyat, dan sebagainya.
Kaum Liberal menolak pembubaran Ahmadiyah dengan dalih bahwa Rasulullah SAW tidak memerangi Musailamah yang mengaku sebagai nabi, tapi hanya menda'wahkannya saja. Padahal, disamping Rasulullah SAW mengirim para Shahabatnya untuk menyadarkan Musailamah melalui da'wah, beliau juga menyatakan kepada dua utusan Musailamah bahwa andaikata utusan boleh dibunuh niscaya Nabi SAW akan membunuh mereka, dan Nabi SAW melalui kedua utusan tersebut menyampaikan pesan untuk Musailamah agar taubat atau Nabi mengancam akan memeranginya.
Kejadian tersebut berlangsung di akhir kehidupan Nabi SAW, sehingga sebelum sempat Rasulullah SAW mengirim pasukan untuk memerangi Musailamah, beliau wafat. Namun Khalifah Abu Bakar RA dengan Ijma' para Shahabat menuntaskan rencana Nabi SAW dengan mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Saifullah Khalid ibnul Walid RA untuk menumpas Nabi Palsu Musailamah dan pengikutnya. Akhirnya, Musailamah Al-Kadzdzab dan 40.000 (empat puluh ribu) pengikutnya terbunuh sebagai kaum murtad di ujung pedang kaum muslimin.
Selain itu, masih ada Abhalah Al-Aswad Al-'Ansi, seorang dukun berkulit hitam di Yaman yang juga mengaku nabi. Saat itu, Rasulullah SAW menyurati kaum muslimin di Yaman agar mengajak si nabi palsu taubat atau dihabisi. Akhirnya, si nabi palsu yang tetap membangkang tersebut dibunuh oleh pemuda muslim bernama Fairuz sebulan sebelum Nabi wafat. Rasulullah SAW pun bersyukur kepada Allah SWT dan memuji si pemuda.
Begitulah kaum Liberal yang suka "ngibul" dalam memaparkan dalil dan hujjah. Nampaknya "ngibul" sudah menjadi platform kaum Liberal, sehingga Liberal layak disebut "Si Raja Ngibul".
NGIBUL ISTILAH
Kaum Liberal menabuh genderang "perang terminologi" terhadap gerakan Islam pro penerapan Syariat Islam. Kaum Liberal menciptakan berbagai istilah sesuka hati mereka, dan mengartikannya semau mereka. Kaum Liberal mengistilahkan gerakan Islam sebagai "preman berjubah", padahal mereka adalah "preman berjas" atau "preman berdasi". Kaum Liberal mengistilahkan gerakan Islam sebagai "kelompok radikal" padahal mereka "Biang Radikal". Kaum Liberal mengistilahkan gerakan Islam sebagai ekstrimis, anarkis dan teroris, padahal mereka "Super Ekstrim" dan "Over Anarkis" serta "Maestro Teroris".
Saat terjadi pertikaian antara NU dan Muhammadiyah di satu pihak dengan HTI dan PKS di pihak lain tentang issue pengambil alihan masjid-masjid NU dan Muhammadiyah oleh aktivis HTI dan PKS di berbagai daerah. Lalu perselisihan tersebut melebar kepada persoalan "Transnasional", saya sangat bisa memaklumi. NU  dan Muhammadiyah sebagai organisasi dalam negeri produk lokal asli menengarai bahwa HTI dan PKS adalah organisasi kepanjangan tangan luar negeri yang memiliki agenda internasional tersendiri. Bagi saya, itu persoalan perbedaan sudut pandang yang harus diselesaikan dengan dialog dari hati ke hati.  Namun urusan menjadi semakin runyam tatkala kelompok Liberal "ndombleng" dalam pertikaian tersebut, mereka memperuncing masalah untuk mengadu domba antar NU bersama Muhammadiyah di satu pihak dan HTI bersama PKS di pihak lain.
Kaum Liberal menjadikan istilah "Transnasional" sebagai alat untuk membentuk stigma bahwasanya semua ormas Islam yang pro penerapan Syariat Islam adalah kepanjangan tangan asing, dalam hal ini Timur Tengah. Dalam rangka mempatenkan istilah tersebut untuk semua gerakan Islam yang pro penerapan Syariat Islam, kaum Liberal menerbitkan sebuah buku berjudul "Ilusi Negara Islam - Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia", isinya adu domba umat Islam.
Lucu sekali, kaum Liberal menuduh gerakan Islam sebagai kepanjangan tangan asing. Padahal, kaum Liberal sendiri adalah "Antek Asing" yang secara terang-terangan menjalankan agenda asing untuk kepentingan asing dengan bantuan dana asing. Maling teriak maling ! Itulah ungkapan yang tepat untuk Liberal dalam soal Transnasional.
NGIBUL WAWASAN
Kaum Liberal mengklaim bahwa mereka adalah pejuang kebebasan berkeyakinan dan beragama. Padahal, dengan konsep pluralisme, multikulturalisme dan inklusivisme yang diusung kaum Liberal, mereka "melarang" umat beragama, termasuk Islam, mengklaim agamanya yang paling benar, dan "memaksa" untuk mengakui kebenaran agama lain. Lucu, orang "dipaksa" mengakui kebenaran suatu agama yang tidak diyakininya. Ironis, "pejuang kebebasan" justru merampas "kebebasan" orang untuk meyakini agamanya yang paling benar dan selain agamanya tidak benar.
Kaum Liberal mengklaim bahwa mereka adalah generasi "pembuka pintu Ijtihad". Padahal, sepanjang sejarah Islam, sejak zaman Nabi SAW hingga kini, pintu Ijtihad tidak pernah tertutup atau pun ditutup, dan tak ada Ulama atau pun Madzhab yang menutupnya. Hanya saja para Ulama telah Ijma' bahwa tidak sembarang orang boleh Ijtihad, tapi hanya mereka yang memenuhi syarat berijtihad. Sedang konsep Ijtihad kaum Liberal membolehkan siapa saja untuk berijtihad, tanpa batasan dan syarat. Akhirnya orang-orang bodoh dari kalangan Liberal seenaknya mengobok-obok Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan dalih Ijtihad. Jadi, kaum Liberal layak disebut sebagai generasi "penghancur pintu Ijtihad".
Kaum Liberal mengklaim bahwa mereka adalah kelompok yang mengedepankan dialog dan bersikap santun dalam berargumen, menghargai pendapat lawan dan anti kekerasan. Bahkan dengan bangga kaum Liberal selalu mengemukakan siap membela lawan pendapat dalam kebebasan berbeda pendapat. Padahal, kaum Liberal tidak pernah menghargai dialog dan tidak ada kesantunan dalam berargumen, selalu melecehkan pendapat lawan dan suka betul dengan kekerasan pemikiran dan ucapan bahkan tindakan.
Buktinya, seperangkat perundang-undangan yang dihasilkan dari "hasil dialog" panjang antar berbagai elemen dan instansi tidak pernah mereka hargai, seperti UU Penodaan Agama, UU Pornografi dan UU Perjudian. Bahkan semua UU "produk dialog" anak bangsa tersebut mereka gugat melalui yudicial review di Mahkamah Konstitusi RI, hingga akhirnya gugatan mereka dikalahkan. Setelah gugatan mereka dikalahkan, tetap saja mereka mendukung dan membela para pelanggar UU "buah dialog" anak negeri tersebut. Llihat saja pembelaan mereka untuk aneka aliran sesat, ajang pornografi dan rencana lokalisasi perjudian, yang semuanya telah nyata-nyata bertentangan dengan UU yang merupakan "jerih payah dialog" bangsa dan negara. Belum lagi perda-perda anti ma'siat yang sering disebut "perda syariat", walau pun belum murni syariat, mereka caci-maki, tolak, demo dan tuntut pembatalannya. Padahal perda-perda tersebut lahir dari "dialog" putra bangsa di berbagai daerah. Begitukah cara Liberal mengedepankan dan menghargai dialog ?!
Bukti lainnya, kaum Liberal senang sekali menghina gerakan Islam dengan berbagai istilah melecehkan seperti sebutan preman berjubah, radikalis, ekstrimis, anarkis, teroris, dan sebagainya. Dan kaum Liberal sering "mengarab-arabkan" ajaran Islam, bahkan menyerang ajaran Islam. Lihat saja, sebuah buku karangan Arab Liberal, Muhammad Syahrur, yang berjudul "Dirasat Islamiyyah Mu'ashirah fi Ad-Daulah wa Al-Mujtama', yang artinya "Studi Islam Modern tentang negara dan masyarakat" diterjemahkan oleh kalangan Liberal dengan judul "Tirani Islam" dengan gambar cover "Bintang Bulan Berduri" yang diterbitkan oleh LKiS. Islam disebut "Tirani" dan Bintang Bulan yang biasa digunakan sebagai simbol Islam diberikan "Duri". Begitukah sikap santun Liberal ?! Begitukan cara Liberal menghargai lawan pendapatnya ?!
Soal Liberal anti kekerasan, hanya omong kosong. Faktanya, pemikiran dan ucapan mereka sangat anarkis, penuh caci-maki dan penghinaan, bahkan yang dilecehkan bukan saja lawan pendapatnya, tapi mereka arahkan penistaan langsung kepada Allah, Nabi, Kitab Suci, Agama dan Ulama, sebagaimana telah saya paparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Ada pun anarkis tindakan, fakta bicara bahwa mereka sering mengadu-domba ormas Islam dan Kelompok Nasionalis. Selain itu, saat sidang saya berlangsung di PN Jakarta Pusat tahun 2008 terkait Insiden Monas, kalangan Liberal mengerahkan "preman bayaran" yang diberikan baju bertuliskan "Banser" untuk melakukan serangan dengan senjata tajam, setelah diselidiki ternyata mereka "Banser Palsu". Bahkan di berbagai daerah gerombolan Liberal juga mengerahkan "preman bayaran" untuk menyerang sejumlah kantor cabang ormas-ormas Islam, bahkan rumah tinggal para aktivis Islam yang pro RUU Pornografi ketika itu.
Peristiwa terbaru adalah bagaimana kaum Liberal memanfaatkan warga NU di Jombang untuk menolak pegelaran peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW oleh FPI Jawa Timur pada Ahad 24 April 2011. Bahkan mereka menebar ancaman akan membubarkan secara paksa acara tersebut. Lucu, Liberal mengajak warga NU untuk anti peringatan Maulid. Tentu saja upaya jahat Liberal tersebut gagal, justru akhirnya ribuan warga NU dan FPI berbaur memperingati maulid bersama dengan khusyu' hingga tengah malam. Begitukah cara Liberal "Anti Kekerasan" ?!
NGIBUL OPINI
Kaum Liberal selalu mengklaim bahwa mereka adalah komunitas yang selalu mengutamakan "Tabayyun" dalam setiap kasus dan peristiwa. Padahal, sepanjang sejarah gerakan Islam di Indonesia, tak seorang aktivis Liberal pun yang pernah melakukan "tabayyun" terhadap berbagai peristiwa yang dituduhkan kepada gerakan Islam. Bahkan kaum Liberal justru sering memanfaatkan aneka issue yang memojokkan Islam untuk menggebuki gerakan Islam. Kalau perlu, kaum Liberal tak segan-segan menciptakan issue dan menebar fitnah untuk menghancurkan gerakan Islam dengan stigmaisasi "opini" yang sesat dan menyesatkan.
Lihat saja, dalam peristiwa Ambon dan Poso, kaum Liberal ikut membangun "Opini" jahat yang memfitnah dan menyalahkan umat Islam. Padahal, awal mulanya umat Islam dibantai dan dihabisi. Dalam peristiwa Purwakarta, kaum Liberal memfitnah FPI mengusir Gus Dur untuk mengadu-domba FPI dan NU, yang akhirnya Gus Dur sendiri yang membantah issue pengusiran tersebut. Dalam peristiwa Banyuwangi, kaum Liberal lagi-lagi memfitnah FPI membubarkan kunjungan kerja anggota DPR RI dari PDIP dengan tujuan adu domba antara FPI dan PDIP, yang akhirnya terungkap bahwa FPI tidak terlibat sama sekali. Begitukah cara Liberal mengutamakan tabayyun ?!  Dasar Tukang Ngibul !
Dalam Insiden Monas 1 Juni 2008, ada yang menarik, berdasarkan kesaksian "warga Ahmadiyah" dari luar kota yang dihadirkan oleh AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yaitu sebuah Aliansi Cair yang menghimpun tidak kurang dari 65 Organisasi, LSM, Kelompok Aliran dan Keagamaan yang "Anti Syariat Islam", terungkap bahwa mereka diajak AKKBB untuk "tamasya" ke Monas lalu ke Ancol, bukan untuk demo. Ada lagi sejumlah pemuda jalanan yang mendatangi Markaz FPI untuk meminta maaf dan menyatakan penyesalan atas keterlibatan mereka dalam Insiden Monas karena tergiur "bayaran" dari AKKBB. Ternyata mereka hanya dijadikan tameng untuk dikorbankan oleh AKKBB demi kepentingan pembentukan "Opini".
Majalah Dumas (Duta Masyaraka) edisi 02 tanggal 15 April - 14 Mei 2011, mewawancarai Ulil Abshar dengan pertanyaan yang "nyinyir" beraroma fitnah terhadap gerakan Islam : "Ini terkait bom buku. Apakah anda percaya bahwa pelakunya adalah kelompok Islam garis keras, yang selama ini kritis pada anda, seperti Athian Ali (FUI) dan sejenisnya, kayak FPI yang kerap dengan mudah menghukumi "kafir" para orang yang beda pendapat ?" Penggiringan "Opini" tentang FPI dan para sahabatnya dari berbagai Ormas Islam sebagai kelompok "Takfiiriyyah" yang mudah mengkafirkan orang lain, merupakan pembusukan yang sering dilakukan kaum Liberal terhadap FPI dan kawan-kawan. Entah sudah berapa banyak kaum Liberal dan sudah berapa ribu kali mereka melontarkannya di berbagai kesempatan untuk melakukan penyesatan "opini" macam itu. Pada saat yang sama Liberal membangun opini bahwa komunitas mereka dalam konteks beragama sama dengan NU dan Muhammadiyah, hanya saja masyarakat tidak mengerti arti Liberal, sebagaimana dinyatakan Ulil dalam wawancara tersebut.
Padahal, masyarakat saat ini sangat mengerti apa dan bagaimana Liberal. Dan masyarakat juga sudah tahu bahwa FPI dan kawan-kawan tidak sembarangan mengkafirkan orang. Buktinya, pasca peristiwa pembubaran acara Temu Kangen PKI di Banyuwangi - Jawa Timur  oleh umat Islam, Ulil menuduh FPI dan langsung mendeklarasikan "FPI Tandingan". Lalu pasca peristiwa bentrok Ahmadiyah dan umat Islam di Cikeusik - Banten, serta merta Yeni Wahid mengait-ngaitkan dengan FPI dan langsung juga mendeklarasikan "FPI Tandingan". Namun, kedua FPI Tandingan yang dideklarasikan kaum Liberal tersebut "Tidak Laku", karena masyarakat sudah tahu "belang" Liberal dan kebobrokannya. Alhamdulillaah.
FPI hanya mengkafirkan kelompok yang memang harus dikafirkan. Bagi FPI yang merupakan Ormas Islam yang beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwasanya "mengkafirkan kekafiran" hukumnya adalah wajib. Misalnya, FPI mengkafirkan semua agama di luar Islam karena begitulah petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu FPI mengkafirkan Ahmadiyah karena mereka mengklaim ada Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW dan ada Kitab Suci baru setelah Al-Qur'an. Termasuk FPI mengkafirkan Liberal karena mereka mengklaim semua agama sama benar, dan memfitnah Al-Qur'an sebagai hasil kongkalikong antara Muhammad dan para Shahabatnya, serta paham sesat Liberal lainnya yang telah saya uraikan dalam lima tulisan berturut-turut di Suara Islam sebelumnya dengan judul-judul : Liberal Musuh Besar Islam, Liberal lebih Iblis daripada Iblis, Liberal Gerakan Onani Pemikiran, Liberal Gerombolan Rasis dan Fasis, Liberal Antek Asing, dan kini Liberal Ngibul Yakin. Insya Allah, yang akan datang akan ada tulisan saya lagi dengan judul "Liberal Kesesatan atas nama agama". Apa masih kurang jelas tentang kesesatan dan kekafiran Liberal ?!
LIBERAL TUKANG NGIBUL
Dengan fakta-fakta di atas, jelas sekali bahwasanya kaum Liberal itu "Tukang Ngibul". Bisa jadi berbohong di kalangan Liberal hukumnya "wajib" demi kepentingan "sesat" mereka. Karenanya, jika mendengar atau membaca pernyataan Liberal tentang suatu "referensi", atau mereka membawa suatu berita, jangan dipercaya, karena mereka pembohong, pendusta dan penipu. Bisa jadi kaum Liberal berani bicara menyebut bahwa pernyataannya berdasarkan pendapat imam anu, dari referensi anu, ada di kitab anu, di halaman anu dan anu, atau dari sumber anu, namun ternyata setelah dicheck tidak ada alias "bodong". Karenanya, bodoh sekali kalau kita percaya dengan "Liberal Si Tukang Ngibul".
Ya Allah..., lindungi kami dari kebohongan Liberal, dan selamatkan kami dari kejahatan ngibulnya.
Penulis: Habib Muhammad Rizieq Syihab


(www.fpi.or.id)