Kamis, 01 September 2011

Pemerintah Afghan bocorkan pembicaraan damai AS dengan Taliban?


Althaf

Selasa, 30 Agustus 2011 19:02:44
Hits: 2417
WASHINGTON (Arrahmah.com) – Sejumlah pejabat AS menyatakan pada hari Senin (29/8/2011) bahwa pemerintah Afghan sengaja membocorkan rincian pertemuan rahasia Amerika Serikat dengan utusan Taliban.
Pakistan tidak disertakan dalam perundingan, ungkap laporan Associated Press yang kemudian dikonfirmasi oleh pejabat senior kontra-terorisme AS yang berbicara kepada berbagai media AS.
Menurut laporan AP, mujahidin Taliban juga ingin Pakistan tidak disertakan dalam pembicaraan dan telah meminta Amerika untuk tidak berbagi rincian pertemuan dengan Islamabad.
Masih dalam laporan yang diterbitkan oleh AP, Amerika Serikat tetap mengadakan pertemuan terpisah dengan Pakistan untuk menilai bagaimana mereka akan bereaksi terhadap kesepakatannya dengan Taliban. Amerika yakin bahwa pemimpin mujahidin Taliban bersembunyi di Pakistan.
Sebagai bagian dari upaya ini, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri AS, Senator John Kerry, telah bertemu Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Ashfaq Pervez Kayani, di negara Teluk bulan lalu.
Dalam pertemuan maraton delapan jam itu, pembicaraan damai dengan mujahidin Afghanistan menjadi topik utama, klaim laporan itu. AS meminta Pakistan memberikan peran yang lebih besar dalam mewujudkan ‘perdamaian’ di Afghanistan.
Menurut klaim laporan itu, AS bertemu setidaknya tiga kali dengan perantara pribadi Mullah Mohammed Omar, Tayyab Aga, yang kini bersembunyi di Eropa karena takut hidupnya terancam. Pemerintah Afghanistan, yang marah pada Washington atas keputusan untuk melakukan perundingan diam-diam dengan utusan Taliban, sengaja membocorkan rincian pembicaraan tersebut.
Kebocoran ini berasal dari rasa takut Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, bahwa perundingan AS-Taliban akan melemahkan kekuasaannya.
Namun, para pejabat AS mengatakan bahwa Washington akan terus melanjutkan negosiasi, meskipun ia tidak memiliki kontak langsung dengan Aga dalam beberapa bulan ini.
AS, seperti dikutip Dawn.com, mengklaim telah menawarkan konsesi kecil bagi mujahidin Taliban sebelum kebocoran itu terjadi. Dalam pembicaraan itupun, AS menjamin Aga aman bepergian ke Jerman. AS dan Taliban juga membahas pembebasan seorang tentara AS ditangkap oleh mujahidin Taliban.
Seorang anggota Dewan Perdamaian Afghanistan Tinggi mengatakan pada AP bahwa kebocoran itu menunjukkan adanya ketidakpercayaan antara pemain utama (AS dan Afghanistan). Dia mengatakan Amerika Serikat, Pemerintah Afghanistan, Dewan Tinggi Perdamaian, serta Dewan Keamanan Nasional Afghanistan masing-masing memiliki rahasia sendiri, sehingga pembicaraan tidak terkoordinasi dengan baik. (althaf/arrahmah.com)

Al Qaeda minta Pangeran Saudi mengusir non-Muslim





DUBAI (Arrahmah.com) – Seorang anggota Al Qaeda Teluk Arab memperingatkan kementrian dalam negeri Arab Saudi bahwa ia harus segera mengusir semua non-Muslim dari kerajaan. Permintaan ini merupakan salah satu dari sekian syarat yang diajukan Al Qaeda agar tidak menjadikannya sebagai salah satu target.
Syaikh Ibrahim al-Rubeish, mantan tahanan Guantanamo, mengalamatkan pesan suaranya untuk Pangeran Nayef bin Abdulaziz dengan tujuh syarat untuk mengubah negara Teluk konservatif itu dan untuk ‘menyelamatkan’ nyawa sang pangeran itu sendiri.
Salah satu syaratnya adalah mengusir non-Muslim dari Teluk Arab, serta mencabut semua hukum buatan manusia dan menegakkan pemerintahan yang mengimplementasikan Syariat Islam.
Syarat lainnya adalah pembebasan para tahanan politik, memberikan perlindungan bagi para da’i untuk berdakwah, dan berhenti menjadikan mereka yang meminta pemerintah untuk mendukung aktivitas jihad di Irak dan Palestina sebagai musuh negara.
“Inilah jalan yang harus dilalui. Jika anda melakukan semua ini, saya akan menjamin bahwa mujahidin tidak akan menyiapkan jebakan lain untuk anda dan anda akan tidur dengan nyenyak di kamar anda, serta pergi kemana pun anda inginkan tanpa rasa takut,” ungkap Syaikh Rubeish dalam pesan tersebut.
Sementara itu, Pangeran Nayef berkomentar, dikutip oleh harian Saudi, Al-Eqtissadiya, pada hari Senin (29/8/2011), “terorisme akan tetap menjadi ancaman bagi kerajaan.”
“Kami akan terus menjadi target para teroris yang berusaha untuk menyerang kami, dan mereka didukung oleh berbagai kelompok.” (althaf/arrahmah.com)

Ustadz Abu Bakar Ba'asyir laksanakan shalat Ied di mushala tahanan



Rasul Arasy
Selasa, 30 Agustus 2011 12:50:57
Hits: 2072
JAKARTA (Arrahmah.com) – Meskipun pemerintah ngotot menetapkan hari raya Idul Fitri bertepatan pada hari Rabu (31/8/2011) besok, nyatanya banyak kaum Muslimin yang telah merayakannya hari ini. Salah satunya adalah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang kini berada di tahanan Bareskrim Mabes Polri.
Hal tersebut diungkapkan asisten Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Hasyim Abdullah pada Selasa (30/8).
“Hari ini Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sudah tidak puasa lagi. Malam saya sudah memberikan informasi kepada beliau kalau bulan sudah nampak,” kata Hasyim.
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir melakukan Salat Ied di mushala tahanan bersama 12 tahanan lainnya. Ustadz Ba’asyir dalam Salat Ied pagi tadi bertindak sebagai imam.
“Ia tadi Salat Ied di mushala tahanan bersama 12 tahanan lainnya. Ia bertindak sebagai imam,” kata asisten Ustadz Ba’asyir, Hasyim Abdullah di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/8).
Namun Hasyim tidak bisa merinci siapa saja tahanan yang ikut Salat Ied bersama Ba’asyir.
“Saya kurang tahu siapa-siapanya. Tapi kan di sini tahanan-tahanannya khusus, ada tahanan kasus korupsi,” ungkapnya.
Hasyim mengungkapkan Ustadz Ba’asyir mengomentari tentang sidang itsbat semalam di Kementrian Agama, dengan mengemukakan bahwa Islam itu mudah dan tidak ada yang dipersulit.
“Islam itu mudah, untuk menentukan 1 syawal, tinggal ada saksi, mau sumpah, itu selesai. Jangan mempersulit Islam,” kata Hasyim menuturkan kata-kata Ba’asyir.
Selain bisa menjalankan shalat ied, kebahagiaan lain juga datang di hari fitri pada Ustadz Ba’asyir, pasalnya isteri dan anaknya menjenguk beliau sekitar pukul 09.15 WIB di Bareskrim Mabes Polri.
Tidak lama setelah berbincang dengan wartawan, isteri Ustadz Ba’asyir, Umi Aisyah datang bersama dua anaknya sambil membawa sejumlah makanan untuk disantap Ustadz Ba’asyir.
Banyak sekali makanan yang dibawakan keluarga untuk Ustadz Ba’asyir, rantang yang berisikan lauk, termos yang berisikan nasi, dan sejumlah makanan khas lebaran lainnya.
Selamat Idul Fitri Ustadz, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan kesabaran dan ketetapan hati untuk terus berjuang di jalan-Nya. (tbn/arrahmah.com)

Sepuluh tanda bila ibadah bulan Ramadhan diterima Allah SWT



M. Fachry
Kamis, 1 September 2011 09:35:21
Hits:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Setelah mengerjakan setiap ketaatan dan ibadah baik itu umrah, haji, puasa, sholat, sedekah, atau amal shalih apapun kita mengulang-ulang bisikan Ali radhiallahu anhu saat berkata: (seandainya aku tahu, apakah amalanku termasuk yang diterima maka aku mengucapkan selamat untuknya, atau yang ditolak maka aku mengucapkan belasungkawa untuknya).
Setelah mengerjakan setiap ketaatan kita juga mengulang perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu: (wahai yang diterima, selamat untukmu, wahai yang ditolak semoga Allah mengganti musibahmu).
Sungguh Ali radhiallahu anhu telah berkata: (jangan kalian pedulikan amal yang sedikit, tapi pedulikan diterimanya amal tersebut), tidakkah kalian mendengar firman Allah Azza wa Jalla ketika berfirman: (Sesungguhnya Allah mengkabulkannya dari orang-orang yang bertakwa) [QS Al-Maidah:27].
Janganlah seperti sebagian kaum muslimin yang tidak peduli diterimanya ketaatan mereka, karena sesungguhnya diberikan taufik dan kemudahan untuk beramal shalih merupakan karunia besar, akan tetapi itu tidak akan terwujud kecuali dengan karunia lain yang lebih besar, yaitu nikmat diterimanya amalan.
Jika seorang hamba mengetahui bahwa kebanyakan dari amalan bisa ditolak dari pelakunya karena banyak sebab, maka yang terpenting adalah mengetahui sebab-sebab diterimanya amalan, jika dia menemukannya dalam dirinya maka hendaklah dia memuji Allah Ta’alaa, dan beramal dengan teguh dan konsisten diatasnya, namun jika tidak menemukannya maka hendaklah hal pertama yang diperhatikannya dari sekarang adalah: mengamalkannya dengan sungguh-sungguh serta ikhlas karena Allah Ta’ala semata.
Maka apakah sebab-sebab dan tanda-tanda diterimanya amalan?
1- Tidak kembali berbuat dosa setelah melakukan ketaatan:
Karena kembali kepada dosa merupakan tanda kebinasaan dan kerugian,
Yahya bin Muadz berkata: ”barangsiapa yang beristighfar dengan lisannya sedangkan hatinya bertekad untuk bermaksiat, dan azamnya kembali kepada maksiat setelah sebulan dan kembali, maka puasanya tertolak darinya, dan pintu diterimanya amalan tertutup didepannya”.
Kebanyakan manusia bertaubat sedangkan dia selalu mengatakan: sesungguhnya aku tahu bahwa aku akan kembali…jangan katakan seperti itu…tetapi katakan: Insya Allah saya tidak akan kembali. Dan memohon pertolongan kepada Allah dan berazam untuk tidak kembali lagi.
2-Takut jika amalannya tidak diterima:
Allah Subhanahu wa Ta’alaa Maha Kaya dari ketaatan dan ibadah kita, Allah Azza wa Jalla berfirman: (Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia) [QS Luqman:12].
Dan Allah Ta’alaa berfirman:
إن تَكْفُرُوا فَإنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ)[الزمر:7)
Artinya: (Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu, dan Dia tidak meridloi kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridloi kesyukuranmu itu) [QS Az-Zumar:7].
Dan seorang mukmin walaupun bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bermacam taqarrub, namun dia merasa sangat kasihan terhadap dirinya, dia takut amalannya tidak diterima, dari Aisyah radhiallahu anha berkata: (Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang ayat ini:
(وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) [المؤمنون: [ 60
Artinya: (Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dari sedekah dengan hati penuh rasa takut) [QS Al-Mukminun: 60].
“Apakah mereka yang minum khamr atau mencuri?” Beliau berkata: (Bukan yang binti As-Shidiq ! akan tetapi mereka yang berpuasa, sholat, dan bersedekah, sedangkan mereka takut tidak diterima dari mereka, merekalah orang yang bersegera dalam kebaikan).
Meskipun dia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah mulia ini namun dia tidak mengandalkan usahanya maupun menunjukkannya kepada Rabbnya, tapi dia meremehkan amalannya, dan menampakkan kefakirannya yang sempurna kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya, dan hatinya penuh dengan rasa takut jika amalannya ditolak, Waliyadhu billah, dia memohon kepada-Nya supaya amalannya diterima.
3- Diberikan taufik melaksanakan amal shalih sesudahnya:
Sesungguhnya tanda diterimanya ketaatan seorang hamba bahwa dia diberikan taufik untuk ketaatan sesudahnya, dan diantara tanda diterimanya kebaikan: mengerjakan kebaikan sesudahnya, karena kebaikan tersebut berkata: kebaikan lagi…kebaikan lagi. Dan ini termasuk rahmat Allah Ta’alaa dan karunia-Nya, bahwa Dia memuliakan hamba-Nya jika telah berbuat kebaikan, dan mengikhlaskannya kepada Allah maka Allah membukakan untuknya pintu kebaikan lain, supaya lebih dekat kepada-Nya.
Maka amal shalih ibarat pohon yang baik, perlu disiram dan dipelihara, supaya tumbuh dan kuat, dan memberikan buahnya, dan hal terpenting yang kita perlukan adalah selalu menjaga amalan-amalan baik yang telah kita kerjakan, dan memeliharanya, dan menambahnya sedikit demi sedikit, inilah makna istiqamah yang sebenarnya.
4- Menganggap remeh amalannya serta tidak ujub dan tertipu dengannya:
Sesungguhnya hamba yang beriman berapa banyakpun dia beramal shalih, namun seluruh amalnya tidak menjadikannya bersyukur atas kenikmatan itu seperti kenikmatan pada jasadnya pendengaran, penglihatan, atau lisan dan lainnya, dan tidak merasa telah menunaikan hak Allah Ta’alaa, karena hak Allah diluar gambaran kita, oleh karena itu termasuk sifat orang-orang yang ikhlas mereka menganggap kecil amalan mereka, sehingga mereka tidak takjub dengannya, dan tidak terkena penyakit ghurur yang akan menghapus pahalanya dan membuatnya merasa cukup dan malas untuk beramal shalih lagi.
Diantara hal yang dapat membantu kita menganggap kecil amalan kita adalah: mengenal Allah Ta’alaa, melihat nikmat-nikmat-Nya, dan mengingat dosa-dosa dan kelalaiannya.
Marilah kita merenungkan bagaimana Allah Ta’alaa berwasiat kepada Nabi-Nya dengan hal itu setelah memerintahkan kepadanya dengan perkara-perkara besar:
يا أيها المدثر. قم فأنذر. وربك فكبر. وثيابك فطهر. والرجز فاهجر. ولاتمنن تستكثر).]المدثر: 1-6
Artinya: (Wahai orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan ! dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkan segala perbuatan yang keji. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak) [QS Al-Mudatsir: 1-6].
Diantara makna ayat ini adalah seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Basri rahimahullah: jangan engkau ungkit amalanmu di depan Rabbmu untuk memperoleh pahala yang lebih banyak.
Imam Ibnu Qayyim: (Setiap engkau menyaksikan hakikat Rububiyah dan hakikat Ubudiyah, dan mengenal Allah, dan mengenal dirimu sendiri, dan menjadi jelas bagimu bahwa barang dagangan yang engkau bawa tidak layak bagi Raja yang Haq, meskipun engkau datang dengan amalan seluruh jin dan manusia, engkau takut akibatnya, dan Dia hanya menerimanya karena kemuliaan, kedermawaan, dan karunia-Nya, serta memberikan ganjaran atasnya juga karena kemuliaan, kedermawaan, dan karunia-Nya) Madarijul Salikin (2/439).
5- Mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan:
Termasuk tanda diterimanya amalan, Allah memberikan kecintaan dalam hatimu terhadap ketaatan, sehingga engkau mencintainya, tenang dan tenteram kepadanya. Allah Ta’alaa berfirman:
(الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ)(الرعد28 )
Artinya: (orang-orang yang beriman hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram) [QS Ar-Ra’d: 28].
Dan termasuk tanda diterimanya amalan adalah engkau membenci maksiat dan mendekatinya dan berdoa kepada Allah supaya menjauhkanmu darinya.
6- Berharap dan banyak berdoa:
Sesungguhnya takut kepada Allah saja tidak cukup, karena harus dengan pasangannya yaitu berharap, karena takut tanpa berharap menyebabkan putus asa dari rahmat Allah, sedangkan berharap saja tanpa takut menyebabkan rasa aman dari siksa Allah dan semuanya perkara yang tercela yang merusak akidah seseorang dan ibadahnya.
Dan berharap diterimanya amalan disertai rasa takut jika amalannya ditolak menjadikan manusia tawadhu dan khusyu kepada Allah Ta’alaa, sehingga bertambah imannya.
Dan apabila rasa berharap telah terwujud maka manusia mengangkat kedua tangannya ke langit memohon kepada Allah supaya amalannya diterima, karena hanya Dia saja yang Kuasa melakukannya, dan inilah yang dilakukan oleh bapak kita Ibrahim kekasih Allah dan putranya Ismail alaihima salam sebagaimana diceritakan oleh Allah Ta’alaa ketika keduanya membangun Kabah seraya berfirman:
( وإذ يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم)( البقرة:127)
Artinya: (Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail seraya berkata: Ya Rabb kami terimalah amalan kami. Sungguh Engkaulah Maha Mendengar, Maha Mengetahui)[QS Al-Baqarah: 127].
7- Diberi kemudahan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat:
Subhanallah, jika Allah menerima ketaatanmu Dia memudahkanmu untuk melakukan amalan lain yang sebelumnya tidak dalam persangkaanmu, bahkan Dia menjauhkanmu dari maksiat meskipun engkau dekat dengannya. Allah Ta’alaa berfirman:
(فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى{5} وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى{6} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى{7} وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى{8} وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى{9} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى{10}) الليل:5-10).
Artinya: (Maka barangsiapa memberikan hartanya dan bertakwa, dan membenarkan pahala yang terbaik, maka kami mudahkan dia kepada jalan menuju kemudahan. Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkannya jalan menuju kesukaran)[QS Al-Lail: 5-10].
8- Mencintai orang-orang shalih dan membenci pelaku maksiat:
Termasuk tanda diterimanya ketaatan, Allah memberikan hatimu rasa cinta kepada orang-orang shalih para pelaku ketaatan dan memberikan hatimu kebencian kepada para pelaku kerusakan dan kemasiatan.
روى الإمام أحمد عن البراء بن عازب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن أوثق عرى الإيمان أن تحب في الله وتبغض في الله)).
Imam Ahmad rahimahullah telah meriwayatkan dari Barra bin ‘Azib radhiallhu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (sesungguhnya ikatan buhul keimanan yang paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah).
9- Banyak beristighfar:
Kalau kita merenungkan kebanyakan ibadah dan ketaatan maka hendaklah menutupnya dengan istighfar karena sejauh manapun manusia bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya pasti ada kekurangan dan kelalaian, sebagaimana setelah kita melakukan manasik haji Allah berfirman:
(ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ) (البقرة:199).
Artinya: (Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan beristighfarlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang)[QS Al-Baqarah: 199].
Dan sesudah sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk beristighfar sebanyak tiga kali. Dan orang yang melakukan qiyamulail mengakhirinya dengan istighfar di waktu sahur.
قال تعالى : (وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ )(الذاريات18)
Firman Allah Ta’alaa: (dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah)[QS Adz-Dzariyat: 18].
Dan Allah Ta’alaa mewasiatkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam firman-Nya:
(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ) (محمد:19)
Artinya: (Ketahuilah, bahwasanya Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosamu dan kaum mukminin dan mukminat)[QS Muhammad: 19].
Dan Allah memerintahkan juga kepada Nabi-Nya untuk mengakhiri hidupnya dengan ibadah kepada Allah, jihad di jalan-Nya dengan istighfar seraya berfirman:
(إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ{1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً{2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً{3})النصر
Artinya: (apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia berbondong-bondong masuk kedalam agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan beristighfarlah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun)[QS An-Nashr].
Dan beliau biasa mengucapkan dalam ruku dan sujudnya
( سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي) رواه البخاري.
Artinya: (Maha Suci Engkau Ya Allah Rabb kami dan dengan memujimu, Ya Allah ampunilah aku) HR Imam Bukhari.
10- Konsisten dalam mengerjakan amal shalih:
Diantara petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah konsisten dalam amal shalih sebagaimana dalam hadits:
فعن عائشة- رضي الله عنها – قالت: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا عمل عملاً أثبته) رواه مسلم.
Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengerjakan suatu amalan beliau menetapkannya) HR Imam Muslim.
Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل). متفق عليه.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit).Muttafaqun ‘alaihi.
Mudah-mudahan Allah Ta’alaa menerima semua amalan kita terutama puasa, qiyamul lail, tilawah, sadaqah kita di bulan Ramadhan. (Disarikan dari makalah Sheikh Amir bin Muhammad Al-Mudri imam dan khatib masjid Al-Iman di Yaman)
Source : ar/voa-islam.com

Lebaran beda sendiri, Indonesia bikin negara lain bingung

Rasul Arasy
Kamis, 1 September 2011 09:00:01
Hits: 2520
JAKARTA (Arrahmah.com) – Keputusan sidang itsbat Pemerintah RI yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011, ditertawakan dunia karena nyeleneh dan menyelisihi keputusan negara-negara Arab yang berlebaran hari Selasa 30 Agustus 2011.
Hal itu diungkapkan oleh H. Djoko Susilo, Dutabesar RI untuk Switzerland dan Liechtenstein. Tanpa bermaksud mempersoalkan hasil sidang itsbat penetepan 1 Syawal 1432 H yang dilakukan Kemenag RI, Djoko mengatakan dirinya kesulitan menjawab pertanyaan dari para koleganya, dutabesar negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).
“Sekarang kita ditertawaakan dunia. Saya susah sekali menjawab pertanyaan teman-teman sejawat dubes negara-negara OKI. Kita kok nyeleneh sendiri (melaksanakan Idul Fitri pada hari Rabu, ed.),” ujar Djoko kepada Rakyat Merdeka Online (RMOL), Selasa, (30/8/2011).
Berbeda dengan Indonesia, hampir semua negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah menggelar shalat Idul Fitri pada hari Selasa. Umumnya mereka menggunakan metode hisab atau perhitungan yang diperkuat dengan metode rukyat atau pengamatan kemunculan hilal. Penggabungan kedua metode ini membuat perhitungan mengenai awal bulan Syawal menjadi lebih akurat.
Untuk memuaskan si penanya, Djoko mengatakan bahwa penentuan tanggal 1 Syawal itu untuk Indonesia. Adapun masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri diminta taat dan patuh pada keputusan Islamic Center setempat.
Djoko mengingatkan bahwa Islam terkait erat dengan iman, ilmu dan amal. Islam adalah agama yang mengagungkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari keyakinan akan ketauhidan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Jadi kalau sekarang sudah ada teknologi tinggi mestinya soal mengintip hilal ya pakai teknologi,” ujarnya lagi.
Di masa depan, Djoko berharap agar pemerintah melalui Kementerian Agama bersikap netral dalam penentuan 1 Syawal ini. Posisi pemerintah idealnya adalah sebagai fasilitator yang tak perlu ikut campur tangan, apalagi memberikan stempel berupa keputusan.
“Sebaiknya hal seperti ini biar diurus MUI dan ormas Islam saja tanpa dicampuri birokrat. Ndak bagus kesannya,” pungkas Djoko.
Tim rukyat Kementerian Agama (Kemenag) di Pantai Kartini Jepara dan Cakung Jakrta Timur, dalam kesakaian di bawah sumpah, menyatakan sudah melihat hilal pada Senin sore (29/8/2011), yang berarti Selasa sudah masuk 1 Syawal.
Hasil pantauan Tim Rukyat tersebut sesuai dengan pantauan Tim Rukyat di negara-negara Arab. Arab Saudi memastikan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011, karena pada Senin, (29/8), hilal sudah terlihat.
Setelah Arab Saudi mengumumkan jatuhnya 1 Syawal 1432 Hijriah, negara-negara yang lain pun mengikutinya, di antaranya: Mesir, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam juga berlebaran Selasa.
Sebagian umat Islam di tanah air belebaran Selasa karena mengikuti hasil rukyat –baik rukyat lokal maupun global– dan hisab. Kaum Muslimin yang berlebaran hari Selasa ini berbarengan dengan Arab Saudi dan dunia Arab lainnya. Beberapa kalangan yang berlebaran Selasa antara lain: Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM), Jum’iyat An-Najat, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Pesantren Gontor, dan sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakui rukyat.
Sementara kalangan yang berlebaran Rabu 31 Agustus 2011 mengikuti keputusan pemerintah, antara lain Nahdlatul Ulama, PERSIS, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan lain sebagainya.
Sementara itu, Keputusan Pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu (31/8) dinilai tidak sah dan batal demi hukum karena menganulir Tim Rukyat yang telah melihat hilal Senin 29 Agustus. Pemerintah dikecam telah melecehkan syariat Islam dan melakukan kebohongan publik terhadap hasil Tim Rukyat Cakung dan Jepara.
Hal itu diungkapkan Majelis Mujahidin (MM), menanggapi keputusan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal dengan menganulir hasil penglihatan hilal oleh Tim Rukyat Cakung Jakarta Timur.
“Keputusan sidang itsbat Kementerian Agama RI tanggal 29 Agustus 2011 batal demi Hukum,” jelas Ustadz Irfan S. Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah MM dalam pesan singkatnya Selasa (30/8).
Menurut Irfan, keputusan sidang itsbat pemerintah itu tidak sah karena menolak kesaksian Tim Ru’yat di Cakung, Jakarta Timur yang memberikan keterangan di bawah sumpah bahwa pada hari Senin 29 Agustus 2011, mereka sudah melihat hilal.
Tim rukyat yang dimaksud Irfan adalah para ustadz dari Front Pembela Islam (FPI), Tim Masjid Ramadhan dan Majelis Mujahidin Jakarta Timur.
Bila Senin sudah terlihat hilal, maka seharusnya Selasa sudah masuk Syawal dan umat Islam harus berlebaran pada hari itu. Dengan mengumumkan 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus, padahal hilal sudah terlihat hari Senin 29 Agustus, lanjut Irfan, maka berarti sidang itsbat Kementerian Agama telah melakukan kebohongan publik.
“Mereka telah melakukan kebohongan publik dengan tidak mengundang saksi-saksi yang melihat hilal,” kecam Irfan.
Irfan mengungkapkan, ditinjau dari pandangan Islam, sikap Kemenag dalam sidang itsbat itu benar-benar melecehkan ajaran Rasulullah SAW yang mewajibkan mengikuti persaksian seorang saksi dalam menentukan 1 Syawal dan awal Ramadhan.
“Mereka melecehkan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan walaupun hanya satu orang saja yang berani disumpah sudah melihat hilal, maka itu sah,” jelasnya.
Sabda Nabi Muhammad yang dimaksud Irfan adalah hadits dari Abdullah bin Umar RA yang diriwayatkan Abu Dawud dalam kitab “Shaum” bab “Persaksian Satu Orang Dalam Menentukan Hilal Ramadhan” sebagai berikut: “Ketika orang-orang sibuk melihat-lihat kemunculan hilal, kukabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa aku telah melihat hilal. Beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (voaI/arrahmah.com)